Oh… Betapa Malangnya Industri Software Di Tanah Air Kita
Coba kita lihat berbagai pameran TI dan expo di tanah air, seabrek produk yang dipajang pada acara itu hanya melulu memamerkan beragam produk perangkat keras alias hardware. Di sisi lain bila kita amati hampir mustahil kita menemukan vendor-vendor yang memajang produk piranti lunak alias software. Terus terang kecuali Zahir Accounting, praktis saya belum pernah saya melihat perusahaan software lokal yang dengan gagah dan penuh percaya diri memamerkan produknya sejajar dengan kepungan produk hardware. Dengan intensitas pameran dan produk-produk yang terus menerus seperti ini telah membawa dampak seperti :
A. Masyarakat Hanya Menghargai Produk Hardware
Apa artinya? Artinya karena iklan-iklan, pameran yang tiap hari menawarkan produk hardware membuat opini yang berkembang dan menjadi keyakikan masyarakat kita bahwa membeli produk hardware yang harganya jutaan rupiah adalah sebuah keniscayaan. Akibatnya, masyarakat menjadi sangat sadar dan ikhlas untuk menggelontorkan uang sekian juta rupiah untuk membeli produk hardware apakah PC, laptop, RAM, USB flash disk, dll. Artinya juga masyarakat sudah sadar bahwa hardware merupakan sebuah industri yang besar seperti halnya industri otomotif, pertambangan, dll. Di samping itu pula produk hardware yang bisa dilihat dengan kasat mata dan disentuh secara fisik menambah kesadaran dan keyakinan masyarakat tersebut. (lagi…)
Ikuti Ajang Kompetisi Indonesia ICT Awards 2007
Buat seluruh orang TI Indonesia pada umumnya dan mahasiswa, dosen TI (teknik informatika, teknik elektro, ilmu komputer), lembaga riset TI, kelompok-kelompok studi di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan, mari kita ikuti ajang kompetisi Indonesia ICT Awards 2007 yang diselenggarakan oleh Departemen Kementerian Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).
Informasi penting :
Pendaftaran : 01 Juni s/d 31 Agustus 2007
Kategori Lomba :
1. Research & Development
2. Student Project (Tugas Proyek/PKL, Skripsi)
3. E-Government
4. Education
5. Communication Industry
6. Financial Industry
7. Business & Process Management
8. General
9. Start up
10. Entertainment
Bagi para dosen & mahasiswa UAD yang berminat mengikuti acara ini dapat menghubungi PSPIKSI agar kita khususnya dari UAD dapat melakukan koordinasi untuk menyiapkan berbagai “amunisi” untuk mengikuti kompetisi yang bergengsi ini. Silahkan hubungi saya di :
1. Kantor PSPIKSI Kampus I UAD Lantai 3.
2. Ruang Prodi Teknik Informatika UAD di Kampus 3.
Telp. 0274-7498868 HP. 0815.689.2648 Email : ardining2007@yahaoo.com
Jangan lewatkan acara ini. Ajang ini kita gunakan untuk melihat daya saing kita di kanca nasional dan internasional. Jangan fikirkan menang kalah dulu, yang penting “lakukanlah yang terbaik”. Saya tunggu kita bersaing….
Beberapa Ketakutan Dalam Memulai Bisnis & Bagaimana Mengatasinya
Walaupun jiwa entrepreneur kita sudah kuat, tapi saya yakin tetap saja terbersit beberapa ketakutan/kekhawatiran akan risiko yang akan dihadapi ketika ingin memulai bisnis. Bahkan seorang pebisnis kawakan pun masih “terserang” rasa tersebut. Hal ini wajarr terjadi, karena setiap manusia memiliki rasa ketakutan bila mengalami kegagalan. Baiklah coba kita uraikan apa aja sih yang membuat kita itu takut bila ingin memulai bisnis :
-
Ketakukan Pertama. Takut produk yang dijual tidak laku, sehingga modal yang sudah ditanam tidak kembali.
-
Ketakutan Kedua. Takut bila penjualan produk tidak sesuai dengan target, maka akan menguras uang kas dan bahkan bisa menjadi defisit.
-
Ketakutan Ketiga. Takut tidak bisa membayar angsuran hutang (bila modal usaha didapat dari hutang ke pihak bank/institusi lain).
-
Ketakutan Keempat. Takut bisnisnya tidak bisa berkembang dan terus mundur sehingga menjadi bangkrut. Ketakutannya menjadi-jadi hingga takut aset-aset yang bila dijaminkan ke pihak bank akan disita.
-
Ketakutan Kelima. Tidak percaya diri (PD), misalnya sering mengeluh apakah saya bisa menjalankan bisnis? Apakah saya berbakat? Iya kalau untung bagaimana kalau rugi, atau bangkrut?
-
Ketakutan Keenam. Takut bila produnya tidak bisa bersaing dengan produk sejenis dari perusahaan lain. (lagi…)
Mengubah Grub Bootloader pada Ubuntu
Bila dalam komputer kita terpasang banyak sistem operasi misalnya Ubuntu dan Windows. Maka kita dapat mengubah mekanisme bootloader untuk keperluan misalnya mengubah urutan sistem operasi yang tampil atau mengubah namanya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah sbb (Thanks to Yusuf OSRG UAD atas tip yang diberikan):
1. Masuk ke console dan login dengan perintah sudo su
2. Buka root file manager dengan perintah gksu nautilus
3. Masuk ke folder /boot/grub lalu buka dan editlah berkas bernama menu.lst
Anda akan lihat pada bagian akhir : (lagi…)
Rapat Perdana PSPIKSI-OSRG-KSL UAD
Selesai dengan rapat kerja yang menghasilkan AD/ART serta program kerja KSL UAD, selanjutnya, hari ini PSPIKSI UAD langsung mengadakan rapat perdana bersama kepengurusan baru (bungkus lama) OSRG-KSL UAD. Dalam rapat dijelaskan dulu oleh pak Mushlihuddin (Kepala PSPIKSI UAD) tentang keinginan yang menggebu2 dari pak Rektor UAD agar UAD segera Goes Open Source, sehingga kita sebagai institusi yang berkompeten dengan hal ini merasa bertanggungjawab dan memiliki beban moral untuk segera merealisasikannya. Adapun dari rapat ini menghasilkan beberapa rekomendasi :
- Mencanangkan gerakan ADGOS 2008 (UAD Goes to Open Source di Tahun 2008).
- Menyempurnakan proposal yang merupakan master plan dari ADGOS 2008 (yang berisi tentang tahapan migrasi, project management, website ADGOS 2008, buku manual Ubuntu, dll).
- Mengajukan legalitas ADGOS 2008 dalam bentuk SK Rektor (Surat Keputusan) resmi.
- Mempersiapkan segala infrastruktur yang mendukung gerakan ini (antaranya domain http://adgos.uad.ac.id, hardware, software, baju kaos tim ADGOS 2008).
- Mekanisme komunikasi tim ADGOS 2008.
- dll
Dengan diselenggarakan rapat ini berarti kami tinggal menunggu turunnya SK Rektor UAD, sehingga gerakan ini bisa dapat diterapkan pada seluruh level birokrasi/unit kerja/biro di UAD. Do’akan kami agar bisa mensukseskan gerakan ADGOS 2008…!
Memahami Persaingan Bisnis
Persaingan memang ada di mana saja, sejak kita di bangku sekolah, kita bersaing untuk menjadi juara kelas. Dalam setiap perlombaan/kompetisi kita bersaing untuk menjadi pemenangnya. Begitu juga halnya di dunia bisnis, seluruh perusahaan akan bersaing untuk berhasil menguasai pasar produk yang dijualnya. Untuk memenangkan persaingan kita akan mengerahkan segenap kemampuan dan sumber daya yang kita miliki untuk “berperang” habis-habisan agar bisa memenangkan persaingan. Agar menjadi juara kelas kita akan belajar keras agar bisa menjadi juara kelas, untuk memenangkan perlombaan kita harus rajin latihan keras. Di dunia bisnis kita harus menerapkan strategi yang jitu agar bisa menjadi pemenangnya.
Saya mau tanya (dan tentu dijawab dengan jujur), bagaimana rasanya ketika pertama kali Anda tahu bahwa produk yang Anda jual ternyata produk sejenis dijual juga oleh perusahaan lain? Tentu kita terkejut dan terus terang deh, seketika itu juga pasti muncul perasaan was-was di hati kita kan?, karena kita “takut” omzet penjualan produk kita bakal menurun.
Tapi jelas itu hanya emosi sesaat, setelah kita merenung sebentar dan “cooling down” selanjutnya “akal sehat” kita langsung bekerja. Kemudian kita akan berfikir bahwa kita harus menyadari kenyataan tersebut, dan harus realistis bahwa kita harus menghadapi persaingan tersebut dengan “gentleman”. Biasanya kita akan mengadakan studi kecil untuk mengetahui karakteristik produk pesaing, seperti : kelebihan dan kekurangannya, harga, pola pemasarannya, dan karakteristik penting lainnya. Dari sana kita dapat membuat semacam matrik perbandingan atau yang sering dinamakan benchmarking antara produk kita dengan produk pesaing. Kemudian hasil matrik tersebut dapat kita jadikan untuk mengambil beberapa keputusan penting tentang bagaimana caranya agar bisa “mengalahkan” produk pesaing tersebut.
Sebenarnya bagi saya di sini lah letak serunya persaingan bisnis sesungguhnya, di mana layaknya seperti arena pertandingan, maka kita akan menggunakan berbagai jurus-jurus “sakti dan pamungkas” agar bisa segera “menjatuhkan” lawan. Dalam konteks ini, salah sedikit saja dalam mengambil keputusan bisnis, bisa berakibat merosotnya penjualan produk kita dibanding produk kompetitor, begitu juga sebaliknya. Situasi seperti inilah yang menjadi indikator bisnis kita menang atau kalah dalam persaingan tersebut. Berani bersaing?
Foto: http://www.sweden.se/upload/Sweden_se/english/articles/SI/2006/Business
Pelayan dan Pemimpin

Bagi yang sudah pernah menggunakan jasa pembangu rumah tangga (khodimat), akan merasakan betapa besar jasa mereka dalam meringankan pekerjaan rumah tangga. Mau makan semua sudah tersedia di meja makan, tidak perlu mencuci piring, menanak nasi, berpanas-panas dan bau asap. Kurang sedikit tinggal teriak, pokoknya semua serba mudah dengan adanya pembantu.
Itulah jasa pembantu rumah tangga, tentu beda dengan pelayan yang lainnya. Pelayanan merupakan ujung tombak dalam semua organisasi. Dengan pelayanan yang prima, maka akan memunculkan kepercayaan. Dengan kepercayaan itulah orang akan memeberikan amanahnya kepada yang telah mereka uji pelayanannya.
Sang pelayan adalah manusia yang telah menyatukan hati dan jiwanya untuk semata-mata menghambakan diri kepada majikannya. Pelayanan dengan setulus hati akan tercermin dalam kinerja yang profesional.
Pelayanan sejati akan terhindar dari rasa malas, gengsi, merendahkan orang lain apalagi main perintah, dan segudang lagi perilaku yang tidak terpuji lainnya.
Pemimpin pada hakikatnya adalah sang pelayan umat. Yang harus selalu siap menyediakan jalan beraspal mulus. Menyediakan makanan bagi seluruh lapisan rakyatnya, mengatur tata kota agar senantiasa rapi, indah dan nyaman dihuni.
Yang membedakan pemimpin dan pelayan adalah, kalau pelayan tidak perlu berjiwa pemimpin, tapi kalau pemimpin mutlak berjiwa pelayan. Pemimpin yang tidak mempunyai jiwa pelayan biasanya hanya marah dan memerintah.
Jangan mimpi jadi pemimpin, kalau tidak ada jiwa pelayanan bersemayam di jiwa sanubari Anda.
Saya punya pengalaman tersendiri mengenai bagaimana sifat/perilaku pemimpin kita. Pada waktu itu ada acara seminar yang diselenggarakan oleh IKPM Sumsel Yogyakarta dengan pembicara para pejabat dari pemerintahan Sumatera Selatan di gedung MM UGM. Ceritanya saya baru masuk ke ruangan, dan masih berdiri di dekat pintu untuk mencari tempat duduk. Saya melihat ada seseorang yang kalau saya nilai pasti salah satu pejabat penting dari Sumsel. Ia juga baru masuk dan berdiri di sebelah saya untuk mencari tempat duduk, bedanya dengan saya ia seolah-olah kebingungan dan celingak celinguk mencari panitia dengan harapan bisa diantar ke “tempat duduk” yang semestinya. Setelah sekian lama akhirnya ada panitia yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan sedikit membungkukkan badan mempersilahkan pejabat tersebut untuk mengikutinya. Tapi ternyata sebelum beranjak pejabat tersebut dengan emosi setengah berteriak mengatakan “…saya ini tamu dan sudah lama berdiri di sini, kok gak ada panitia yang mengantarkan saya ke depan/tempat duduk sih…!!”. Saya yang mendengar itu langsung mengelus dada dan bergumam dalam hati, ya beginilah kalau pejabat yang masih bermental dilayani, apa-apa minta dilayani dan memarahi. Masak cuma duduk di depan pun harus diantar oleh panitia?? Kan udah kelaziman kalau orang penting itu dalam setiap acara duduknya ya di depan, kan tinggal masuk terus jalan ke depan ketemu kursi ya duduk. Ah itu aja kok repot…pejabat..pejabat… semoga generasi saya nanti ketika memimpin negeri ini tidak tertular dengan sifat seperti itu.
Sumber : Dikembangkan dari Editorial Majalah Beja Tahun II Edisi ke-13 Mei-Juni 2007
Foto : http://romisatriawahono.net/wp-content/uploads/2006/02/orator-small.gif
Most Wanted! Ikon Teknologi Informasi Indonesia

Bila kita perhatikan semua bidang apa pun di dunia ini selalu ada ikon yang menjadi panutan/motivator sehingga banyak orang yang akan mengikuti jejak sang ikon ini. Ikon ini selalu ada biasanya identik di level global maupun lokal. Di bidang sepakbola misalnya siapa yang tak kenal dengan Maradona, Pele, Zenedine Zinade, Andriy Shevchenko, di tanah air ikon Zainal Arief, Bambang Pamungkas, Saktiawan Sinaga, Firmansyah. Di dunia selebriti ada JLO, Britney Spears, Lindsay Lohan, Brit Pitt, Tom Cruise, untuk lokalnya ada Dedy Mizwar, Didi Petet, Krisdayanti, Chelsea Olivia, Tora Sudiro, Rhoma Irama, tak ketinggalan Tukul Arwana. Di dunia bisnis ada Donald Trump, Rockfeller, Warren Buffet, George Soros, Pangeran Al Waled, untuk ikon lokalnya kita mengenal Ciputra, Triatma K Haliman, Mochtar Riady, Puspo Wardoyo, Purdi E Chandra, Putera Sampoerna, dsb. Sebagai ulama (selain Rasulullah SAW, para Sahabat, salafush shalih) kita pasti akan selalu menjadikan mereka panutan seperti Abul A’la al Maududi, Said Hawwa, Syekh Bin Baz, Sayyid Qutb, Hasal Al Banna, Yusuf Qardhawi, Ahmad Yassin, Ahmed Deedat, Zakir Naik, untuk ikon ulama lokal seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim As’ari, Buya Hamka, Rahmat Abdullah, dsb.
Nah, khusus ikon teknologi informasi mungkin sudah sering saya sebut dalam blog ini seperti Bill Gates, Steve Jobs, Paul Allen, Steve Wozniak, Jerry Yang, David Filo, Sergey Brin, Larry Page, Linus Torvalds, Tim Berners Lee, GE Moore, Michael Dell, Jeff Bezos, William Hewlett, David Packard, nah untuk ikon lokalnya kita masih sampai saat ini belum melihat individu atau institusi yang bisa dijadikan ikon. Bangsa kita masih belum memiliki ikon di bidang TI. Bila sebatas “selebritis” TI memang cukup banyak seperti Budi Rahardjo, Richardus Eko Indrajit, Onno W Purbo, Michael Sunggiardi, I Made Wiryana, dll, tapi beliau-beliau tersebut hanya sebatas sebagai “pengompor” bagi tumbuhnya dan lahirnya ikon-ikon yang kita harapkan nantinya bakal bisa mengglobal dan bisa mengharumkan nama Indonesia. Satu pertanyaan saya mengenai hal ini dan mungkin juga pertanyaan kita semua yang bisa jadi jawabannya sangat beragam yaitu What’s wrong with our nation?
Tulisan ini bukan tanpa dasar karena semakin diperkuat oleh data yang saya dapat dari Kompas hari ini (20/06/07) yang membuat daftar para intelektual muda kita berikut konsentrasi mereka. Dari daftar tersebut terdapat nama-nama seperti Efendi Gazali, Eep Saefulloh Fatah, Denny Indrayana, Ulil Absar Abdalla, dkk. Dari sana tidak satu pun masuk para intelektual di bidang teknologi terutama teknologi informasi.
Acara A Tribute to Samaun Samadikun di PAU Mikroelektronika ITB
Tanggal 18 kemarin saya ikut istri saya ke ITB, karena hari ini ia harus menjalani sidang tesis S2 di Teknik Informatika ITB yang dilaksanakan pukul 13.00 WIB (alhamdulilah hasilnya LULUS). Saya sendiri jam segitu berada di ruang lain tepatnya di gedung PAU Mikroelektronika untuk mengikuti acara Tribute to Samaun Samadikun.
Acara ini diselenggarakan oleh murid-murid (Alm) Prof. Samaun Samadikun yang bertujuan untuk mengenang kembali visi dan misi besar beliau yaitu hadirnya industri mikroelektronika di Indonesia.
Acara ini dihadiri oleh peneliti PAUME sendiri dan undangan antara lain Dr. Richard Mengko, Prof. Tati Mengko, Dr. Budi Rahardjo, Dr. Armein Langi, Dr. Kastam Astami, Dr. Trio Adiono, pak Yana (PT Quasar), Buntoro (MAK), Ahmad Bafaqih (EsiTrack), PT INTI, dll. (lagi…)
E-Government in Action
Oleh : Dr. Richardus Eko Indrajit, Dudy Rudianto, Akbar Zainuddin
A. PEMBAYARAN PAJAK SECARA ONLINE DI CALIFORNIA
Sebelum melaksanakan inisiatif e-Government secara luas, Dinas Perpajakan California, Franchise Tax Board (FTB) sebenarnya sudah meletakkan beberapa dasar penting dengan mengaplikasikan beberapa proses pembayaran pajak melalui proses elektronik. Tahun 1993, FTB membangun Electronic Fund Transfer, yang bisa digunakan oleh pembayar pajak melalui transfer rekening, membangun website (1996), dan yang paling majua adalah membangun “e-pay”, sistem di mana FTB bisa melakukan debit atas rekening pembayar pajak, yaitu pada tahun 1999. Namun demikian, seiring dengan berbagai perkembangan, dirasakan perlunya inisiatif e-Government sebagai usaha untuk memberkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. E-Government berarti menggunakan teknologi, kemampuan, dan jaringan yang dimiliki secara maksimal. Inisiatif ini setidaknya didorong oleh tiga hal (Connel, 2000):
-
Pertama adalah ekspektasi yang semakin besar dari customer Dinas Perpajakan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Customer ini bisa terdiri dari pembayar pajak individual, organisasi, konsultan perpajakan, dan lain-lain. Ditambah dengan semakinintensifnya penggunaan Internet di kalangan masyarakat, mereka semakin berharap bisa mendapatkan pelayanan pajak yang mudah lewat komputer mereka.
-
Kedua adalah semakin meluasnya inisiatif e-Governmetn secara nasional di California di berbagai departemen pemerintahan. Penerapan e-Government secara lokal untuk mengantisipasi diberlakukannya e-Government secara nasional.
-
Ketiga adalah kompetisi global yang semakin kuat. Kehadiran teknologi Internet menjadikan lahan persaingan tidak hanya antarnegara bagian di Amerika Serikat, tetapi sudah mencakup persaingan global. Penerapan e-Government diharapkan memperkuat daya saing California secara umum dalam kancah global.






