Mengambil Hikmah Dari Kasus Hilangnya Foto Istri Uje
Mungkin sebagian besar dari kita udah pada tahu terhadap kasus Uje (Ustadz Jefry Al Buchory) yang mengalami musibah kehilangan tas di pesawat milik Garuda beberapa hari lalu. Adapun tas tersebut banyak berisi barang berharga seperti 2 buah handphone, kartu kredit, uang dalam pecahan rupiah, dolar, riyal, dll. Namun yang paling memilukan bagi Uje katanya adalah yang hilang tersebut terdapatlah foto-foto istrinya pada masa dulu belum menggunakan jilbab!
Update: Berdasarkan konfirmasi langsung dari ukhti Pipik Uje di komentar posting ini, ternyata foto tersebut bukan berada di dalam HP atau handycam melainkan di dalam dompet Uje yg ikut hilang. Tapi oke lah walau pun agak sedikit membuat relevansi posting ini bergeser/berubah, tapi makna dan maksud tulisan blog ini tidak berubah. Trims.
Sungguh ini merupakan pelajaran berharga bagi kita yang sudah memiliki istri atau anak perempuan (yang sudah baligh) agar jangan pernah menyimpan foto tersebut dalam memori handphone atau handycam! Usahakan agar langsung disimpan ke hard disk komputer di rumah dan jangan di simpan di laptop. Karena pada prinsipnya produk handphone, handycam dan laptop adalah perangkat mobile yang dapat kadangkala secara tidak kita sadari bisa dilihat rekan/teman yang bukan muhrim serta memiliki potensi untuk mengalami kehilangan yang cukup tinggi. Sedangkan hard disk PC sifatnya menetap di rumah dan kebanyakan hanya dilihat oleh anggota keluarga saja. Kalau perlu (dan ini sendiri secara pribadi saya lakukan) jangan pernah mengambil foto mereka dalam keadaan tidak berjilbab, untuk memberi kita sebagai suami/kepala keluarga dan terutama mereka (istri/anak).
Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran sekaligus hikmah dari kasus ini. Amien.
Strategi Kebijakan Hukum Industri Teknologi Informasi (Usulan Penelitian)

Mumpung masih ingat, tadi pagi langsung terbersit ide tentang penelitian mengenai teknik/kajian pengambilan kebijakan/keputusan hukum di bidang Teknologi Informasi.
Latar belakang ide ini adalah maraknya kasus-kasus hukum mengenai berbagai aspek teknologi informasi, mulai dari pelanggaran hak cipta, merk, interoperability, fasilitas-fasilitas produk tertentu yang tidak berjalan di platform produk pesaing, dsb. Sebagai contoh kecil misalnya bagaimana Microsoft yang sering dituntut atas dakwaan praktek monopoli, YouTube yang bolak balik dituntut karena melanggar hak cipta/asusila, Google yang menuduh Microsoft memperlambat kinerja Google.com di Windows Vista, kemudian perang antara Cisco vs Apple yang mempermasalahkan mengenai kata iPhone, tak lupa juga perang klasik antara Windows vs Apple, di mana Apple kerap menuduh Windows selalu menjiplak desain sistem operasi Mac dan kasus teranyar adalah perang pengesahan format OpenXML vs ODF.
Semua itu merupakan kasus-kasus hukum yang sering kita jumpai di dalam industri TI (Teknologi Informasi). Salah satu tujuan dari penelitian ini sebenarnya adalah untuk menghasilkan semacam framework pengambilan keputusan/kebijakan bagi pengambil kebijakan. Hal ini dipandang perlu untuk membantu para pengambil kebijakan dalam menentukan keputusan, terutama bagi yang memiliki track record TI yang minim.
Penelitian ini sangat cocok dilakukan oleh para pejabat hukum, badan pemerintah terkait, orang hukum, dan juga cocok bagi orang TI/Ilmu Komputer & Informatika.
Acara Tour Piknik Keluarga Besar FTI UAD
Hari minggu tanggal 2 September kemarin, kami dari keluarga besar Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan melakukan acara piknik bersama ke beberapa tempat seperti tempat outbond Kampungku, Griyokulo dan Tawangmangu. Acara dimulai dengan berangkat bersama di kampus III UAD pada pukul 08.00 WIB.
Rombongan berangkat dengan menggunakan empat buah bis dari Dieng Transport berangkat menuju Kampungku. Setibanya di sana, ternyata kami harus jalan kaki dulu agar bisa sampai di tempat outbond tersebut. (lagi…)
Beberapa Catatan Blog Yang Tertinggal
Gak tau nih, dua bulan terakhir saya agak “malas” menulis blog, padahal tiap hari ada aja ide tulisan. Tapi biarlah daripada tidak nulis sama sekali, berikut ini saya beberkan beberapa dokumentasi yang tertinggal:
Gambar di atas adalah suasana waktu Raker Prodi Teknik Informatika di Kaliurang tanggal (waduh saya lupa…). Intinya ada perubahan kurikulum di Prodi Teknik Informatika yang salah satunya adalah memasukkan mata kuliah Kewirausahaan Teknologi Informasi (IT Entrepreneurship) menjadi mata kuliah wajib (dan saya sendiri yang menjadi pengampunya). Kurikulum baru ini akan mulai diterapkan pada semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009. (lagi…)
Berbuat Sesuai Kapasitas
Sekedar renungan…
Banyak orang yg hanya sanggup makan nasi dengan tempe setiap harinya, sementara kita lihat pusat makanan cepat saji selalu ramai dikerumuni orang.
- Banyak orang yang hanya mampu menginap di losmen/hotel melati, sementara kita lihat banyak juga orang yang menginap di hotel bintang 5.
- Banyak dari kita yang cuma sanggup membeli sepeda, sementara itu segolongan orang lain sanggup membeli mobil keluaran terbaru.
- Banyak orang yang hanya naik kendaraan umum kelas ekonomi ketika pulang kampung, sementara tidak sedikit pula yang naik pesawat dengan tarif yang melangit.
- Banyak orang yang setiap bulan selalu defisit keuangan keluarganya sehingga tidak jarang harus ditutupi dengan cara berhutang, sementara kita lihat secara rutin media massa melaporkan ranking kekayaan para pejabat, pengusaha yang semakin hari semakin meroket.
- Kita lihat di pinggir-pinggir jalan, banyak orang yg menadahkan tangan untuk meminta uang receh, sementara itu tidak sedikit kita lihat orang yang mengulurkan tangan untuk membantu sesama.
- Belum lupa di ingatan kita Amerika dengan enteng tetap menyerang Irak walaupun banyak tentangan luas dari negara lain.
- Kita lihat juga Amerika dan sekutunya, bak cacing kepanasan dan marah plus mengancam Iran yang berani melakukan pengayaan nuklir, sementara Israel dan mereka sendiri dengan mudah dan tenang mengembangkan nuklir.
- Yang paling gres adalah kasus penganiayaan terhadap wasit karate internasional yang dilakukan oleh polisi Malaysia, sedangkan warga di kolong jembatan, pedagang K5 selalu dikejar-kejar dan dipukuli oleh “aparat” negara.
Akhirnya… kuasa apa yang bisa kita perbuat sesuai kapasitas yang kita miliki ?…


