Kemana saja saya akhir bulan ini? Mungkin ada yang sebagian paham? Ya betul!, saya menyelesaikan salah satu masterpiece saya yaitu persiapan pengiriman perdana produk MyFamily Accounting. Benar-benar sangat melelahkan baik secara fisik, mental, emosi, dll. Bayangkan, kami harus menepati janji mengirimkan produk ini ke seluruh pembeli tepat hari ini tanggal 30 Januari 2008. Dan alhamdulilah, semua ini berhasil kami lalui dengan mulus. Insya allah seluruh jerih payah dan pengorbanan kami selama ini sejak bulan April-Desember 2007 dan Januari 2008 yang lalu terbayar dengan lunas!
Ruang Produksi untuk development
Inilah produk MyFamily Accounting yang menjadi idaman para keluarga di Indonesia
Anak saya pun dengan bangga memamerkan produk MyFamily Accounting
Pernah nggak dalam keseharian kita melihat beberapa tipe orang yang begitu senang dan bersemangat menceritakan keberhasilan/kesuksesan orang lain? Misalnya hari ini ia dengan fasih bercerita tentang kesuksesan si A dari mulai nol hingga berhasil sekarang. Di lain waktu ia juga menceritakan tentang kehebatan si B karena sangat gigih dan ulet hingga bisa berhasil.
Terus terang kalau saya sudah sering melihat orang seperti ini. Di satu sisi ia sangat hafal dengan keberhasilan orang lain, sehingga seharusnya secara tidak langsung ia juga bisa paham dan tahu bagaimana mencapai keberhasilan/kesuksesan orang yang ia ceritakan tersebut. Namun ternyata cerita hanya tinggal cerita, orang tersebut hanya bisa sebagai “jubir” keberhasilan orang yang diceritakannya, karena dalam praktek kehidupannya sendiri, sangat jauh dari apa-apa yang ia ceritakan tersebut. Memang ya, sepertinya kalau sekedar memberi contoh sangat gampang dibanding menjadi contoh. Anda mau jadi yang mana?
Inilah lagu pelipur lara, penyemangat untuk terus gigih menggapai mimpi…
berakit-rakit ke hulu
berenang ke tepian
sakit-sakit dahulu, susah-susah dahulu
baru kemudian, bersenang-senang….
pahit rasanya empedu
manis rasanya gula
bersusahlah dahulu, bersakitlah dahulu
baru kemudian, berbahagia
berjuang, berjuang
berjuang sekuat tenaga
tetapi jangan lupa perjuangan harus dengan disertai do’a
rintangan, rintangan
rintangan sudah pasti ada
tetapi hadapilah dengan tabah juga dengan kebesaran jiwa….
By. Rhoma Irama
Judul di atas terinspirasi dari situs www.sciencebusiness.com yang menjadi tantangan terhadap kita semua yang sehari-hari berkutat di ruang pusat pencerahan iptek atau sering disebut laboratorium. Kita pasti setuju bahwa melalui laboratorium lah hampir seluruh produk rekayasa di dunia ini muncul. Siapa yang tidak kenal Palo Alto Research Center, Bell Labs, dsb.
Khususnya saya ingin menyinggung sedikit penelitian-penelitian di perguruan tinggi di Indonesia yang notabena merupakan pusat perputaran dan pencerahan ilmu berada. Apakah “armada” ilmuwan sekaliber profesor dan doktor yang kita miliki sudah dapat melakukan perubahan besar dalam menciptakan pasar (baca: market driven) ? Atau kah hanya sebatas laporan penelitian yang berujung di perpustakaan-perpustakaan yang jarang “jarang terjamah” ataukah yang lebih ironisnya lagi, kita hanya memproduksi ilmuwan yang cuma “jago” membuat proposal tanpa ada dampak ke masyarakat secara umum dan berdampak ekonomis yang besar secara khusus? Kapankah perguruan tinggi kita tidak lagi menggantungkan pendapatannya dari iuran mahasiswa dan sepenuhnya beralih terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian yang berasal dari kampus? Sehingga mimpi besar para perguruan tinggi untuk menjadi research university benar-benar tercapai. Kapan ya ? Mari kita tunggu tanggal mainnya…
Ironis! Begitulah ungkapan yang hanya bisa terlontar terhadap perilaku pemain asing sepakbola di dalam negeri. Betapa tidak, mereka yang kita harapkan dapat menjadi contoh dan suri tauladan baik dari segi kemampuan, etika dan semangat agar bisa meningkatkan citra sepakbola Indonesia, ternyata kita tidak bisa berharap banyak dari mereka.
Berbagai kerusuhan dalam beberapa hari terakhir ini ternyata bukan dipicu oleh pemain lokal, ternyata oleh pemain luar alias import! Sungguh aneh, sebenarnya ada apa dengan mereka (baca: pemain asing ini?) Apa yang harus dibenahi dengan kondisi seperti ini? Memang sedikit banyak ulah pemain di lapangan dapat menjadi pemancing anarkisme yang dilakukan oleh suporter. Nah, kalau pemain “ke-13″ ini sudah turun tangan, tahu sendiri kan apa akibatnya…..?
Suatu hari…., anakku “tersengat laba-laba”…..

Beberapa jam kemudian, terjadilah sesuatu yang “luar biasa”……

Siap menumpas segala kejahatan….

Kadang saya bertanya-tanya kenapa ya sistem operasi Windows begitu perkasa dan digdaya dan mendominasi selama ini sehingga menjadi “hajat hidup” orang banyak di seantaro dunia? Walau banyak juga yang pasti mengatakan bahwa Mac dan Linux lebih bagus, lebih aman dan lebih-lebih yang lain, tapi secara fair kita akui masyarakat kita masih “begitu setia” dengan Windows.
Baik, tulisan ini tidak saya tujukan untuk membicarakan masalah kehandalan, aspek monopoli Microsoft dan hal-hal teknis lainnya. Tapi mengapa Windows bisa menjadi produk yang sangat bersejarah? Paling tidak ada satu hal penting yang saya temukan jawabannya yaitu Microsoft fokus pada pengembangan dan penyediaan infrastruktur/platform agar aplikasi/program yang dikembangkan oleh pihak ketiga bisa berjalan baik dan mulus di seluruh sistem operasi Windows.
(lagi…)

Tiba-tiba saya mendengar anak-anak kecil menyanyikan lagu-lagu populer orang dewasa, semacam Peterpan, Nidji, Ungu, dll. Seketika itu juga saya merasa ada yang janggal dan aneh, apa ya….? Lama saya membatin bertanya pada diri sendiri, apa yang aneh ya…?
Langsung saya menerawang jauh ke belakang di masa kecil dulu, perasaan saya dulu seneng deh menyanyikan lagu-lagu Ezza Yayang, Bondan Prakoso “si lumba-lumba”, Roti Sumbu, Melisa “Abang Tukang Bakso”, Eno Lerian, Si Komo, dll. Hmmm…… berarti dapat deh jawabannya, yaitu kita sekarang sudah kehilangan atau krisis lagu anak-anak! Di tambah itu pula, siaran televisi sepertinya tidak ada yang memberikan slot waktu untuk acara-acara lagu anak-anak. Waduh, ternyata zaman sekarang sudah sangat berubah ya…? Sekarang mereka “dipaksa” lingkungan untuk menerima mentah-mentah lagu, kebiasaan orang dewasa.
Wah, bagaimana nih mengatasi masalah ini….? Ada solusi ..?
Ikut milis, nonton berita/debat, wawancara, berwacana, diskusi, dll sebenarnya ada baiknya buat kita. Tetapi kalau kebanyakan ngomong dan tidak pernah action kayaknya lama-lama gerah juga melihatnya. Terutama milis yang kasih komentar nya bejibun, bahkan hujat sana hujat sini akhir-akhir ini menjadi santapan saya sehari-hari. Kadangkala saya membatin apakah bangsa ini bakal menjadi besar kalau masyarakatnya cuma bisa NATO (not action talk only)?
Saya jadi teringat tulisan I Made Wiryana beberapa tahun dulu, bahwa salah satu keberhasilan India menguasai TI adalah karena para anak mudanya yang pintar-pintar itu memang rada kuper politik atau sosialisasi, tapi kontribusi yang mereka berikan kepada bangsa mereka sangat besar, yaitu bisa mengangkat harkat martabat India sebagai negara super power di bidang TI. Nah, ini lah yang sudah hampir setahun belakangan ini saya terapkan, yaitu menjadi dan mencetak banyak generasi silent productive, yaitu segolongan masyarakat, komunitas, personal, perusahaan atau apa lah yang tidak banyak ngomong tapi produktif dalam berkarya, menghasilkan produk, ekonomi, dll.
Bagaimana dengan Anda?
Kemarin hampir setengah hari berada di Klaten, tepatnya di pabrik percetakan PT Intan Sejati untuk melihat langsung proses produksi kemasan (packaging) untuk produk software buatan perusahaan saya Metasoft Technologies yaitu MyFamily Accounting. Hal ini sengaja saya lakukan untuk memastikan bahwa kualitasnya sesuai dengan yang kami harapkan.
PT Intan Sejati ini ternyata masuk dalam grup Intan Pariwara. Siapa yang tidak kenal dengan nama besar perusahaan ini?
Wong sejak SD kita sudah sering menggunakan buku-buku pelajaran mereka. Walaupun sudah hampir 4 tahun berkecimpung di dunia bisnis penerbitan, namun baru kali ini saya melihat perusahaan percetakan yang besar. Dari hasil tanya-tanya saya dapatkan informasi bahwa Intan Group ini memang sudah jauh dirintis oleh pendirinya di tahun 70-an. Banyak sudah anak perusahaan yang didirikan yang tidak jauh dari bidang grafika/printing.
(lagi…)