Akhirat di Hati Dunia di Tangan
Jujur, setiap hari ketika menjelang dan bangun dari tidur apakah yang sering menjadi evaluasi personal kita dengan apa yang telah kita lakukan hari ini? Apakah penuh dengan urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai, proyek yang tak kunjung dapat, mobil dan rumah impian yang belum terwujud, khawatir tidak memiliki uang ketika anak akan masuk sekolah, sibuk dengan iri terhadap teman kantor/tetangga yang sudah menambah mobil dan rumah baru, dan hal-hal yang terkait dengan itu.
Ataukah kita sibuk dengan mengevaluasi kesedihan kita karena tilawah/membaca al quran yang terlalu sedikit bahkan hampir nihil selama satu minggu penuh, sholat berjamaah yang selalu ditinggalkan, infak/sedekah yang sangat perhitungan/pelit, sholat malam yang entah tdk tahu kapan terakhir kita lakukan, silaturahmi yang dilakukan hanya sebagai kedok agar “mengambil hati” orang yang dikunjungi…
Mungkin bila kita masih disibukkan pada golongan pertama, maka bisa jadi dunia masih di hati kita dan akhirat hanya di tangan kita yang bisa lepas kapan saja, namun bila sebaliknya maka insya allah akhirat sudah melekat di hati kita dan dunia berhasil kita letakkan di tangan.
Atau bisa jadi juga bila setiap kita melihat orang kaya, dengan berbagai atribut kemewahannya membuat hati kita bergetar iri, minder dan menjadi hormat dan patuh yang berlebihan maka bisa jadi dunia masih sangat melekap pada diri kita dibanding bila melihat seorang ‘alim yang sangat dekat kepada akhirat dengan kontribusi nyata yang telah dikhidmatkan kepada kemaslahatan dunia dan agamanya.