Ardiansyah


Pindah ke Blog http://blog.uad.ac.id/ardi

Terhitung hari ini, maka secara resmi saya telah memindahkan blog http://4rd1.wordpress.com ke alamat baru yaitu http://blog.uad.ac.id/ardi.

Semoga bisa maklum, atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Akhirat di Hati Dunia di Tangan

Ditulis dalam Curhat, Fenomena, Gaya Hidup, Islam, Mutiara Hikmah, Opinion, Religion Activity, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada Mei 22, 2008

Jujur, setiap hari ketika menjelang dan bangun dari tidur apakah yang sering menjadi evaluasi personal kita dengan apa yang telah kita lakukan hari ini? Apakah penuh dengan urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai, proyek yang tak kunjung dapat, mobil dan rumah impian yang belum terwujud, khawatir tidak memiliki uang ketika anak akan masuk sekolah, sibuk dengan iri terhadap teman kantor/tetangga yang sudah menambah mobil dan rumah baru, dan hal-hal yang terkait dengan itu.
(lagi…)

Akhirnya Nonton AAC Juga

Ditulis dalam Curhat, Entertainment, Gaya Hidup, Mutiara Hikmah oleh Ardiansyah pada April 7, 2008

Sudah sekitar 2 minggu merencanakan nonton AAC sama istri, akhirnya baru kesampaian kemarin kami merealisasikannya di Ambarukmo Plaza. Biasanya hari Senin, harinya orang pada sibuk kerja dengan setumpuk agenda yang harus diselesaikan. Beda dengan kami yang tidak tanggung-tanggung langsung memilih jam tayang yang paling pagi yaitu sekitar pukul 11.15 WIB. Sambil menunggu mulai filmnya mulai, istriku minta makan akhirnya makan dulu deh di food court dekat studio.

Saya tidak akan membahas mengenai film ini, karena saya sudah yakin ratusan tulisan pasti sudah menulis review film ini. Saya hanya ingin memberikan kesan bahwa overall film ini bagus sama kayak film Nagabonar 2 dulu, karena menghadirkan tontonan inovatif di tengah film-film “amburadul” lainnya. Salah satu hikmah yang bisa saya ambil dari film ini adalah mengenai ajaran untuk sabar dan ikhlas. Karena banyak dialog dalam bahasa Arab semakin membuat saya semangat untuk segera juga bahasa Arab. Sukses ya film AAC…

Kemunduran Kualitas Shalat Jum’at ?

Ditulis dalam Fenomena, Islam, Mutiara Hikmah, Opinion, Religion Activity oleh Ardiansyah pada Februari 2, 2008
Sudah beberapa tahun belakangan saya sering mengamati baik shalat Jum’at di masjid lingkungan rumah maupun di masjid kampus, bahwa semakin-hari semakin banyak saja jamaah shalat jum’at yang datang ke masjid sesuah khutbah pertama selesai! Bahkan kalau saya perhatikan dari langkah kaki mereka kayaknya tidak ada kesan tergopoh-gopoh karena telat atau merasa tertinggal shalat! Melainkan langkah kaki yang santai dan biasa saja!
Waduh, miris sekali melihatnya. Ada apa ini? Apakah di sekolah dan keluarga sudah tidak diajari lagi bahwa mengikuti dua khutbah adalah WAJIB. Hal ini juga yang kerap disampaikan oleh bapak Kurdi, seorang dosen senior di UAD. Beliau bahkan dengan keras memperingatkan jamaah yang terlambat datang tersebut ketika sedang berada di atas mimbar Jum’at.
Kira-kira apa ya masalahnya? Kalau saya melongok kembali di masa kecil dulu, kuatnya doktrin dan ajaran ketika mengaji di kampung dan ketika belajar agama di sekolah telah membentuk kuat dan terpatri di ingatan bahwa mengikuti dua khutbah Jum’at tersebut adalah wajib,  karena merupakan rukun wajib sholat Jum’at. Jadi bila tidak dipenuhi salah satunya berarti bisa dikatakan tidak sah dong sholatnya. Nah, apakah generasi sekarang ini sudah kendur ajaran seperti itu sejak kecil? Berarti pendidikan agama kita sudah mundur jauh nih…. astaghfirullah.

Logika Manusia vs Logika Robbaniyah

Ditulis dalam Islam, Mutiara Hikmah, Religion Activity oleh Ardiansyah pada November 30, 2007

help.jpg

Hari minggu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menyentuh berpa taujih tentang logika manusia dan logika robbaniyah (Tuhan).

Kita pasti ingat sejarah Nabi Musa A.S. dan pengikutnya ketika dikejar-kejar pasukan Fir’aun (laknatullah) hingga terdesak sampai di Laut Merah. Secara logika akal manusia sudah pasti situasi tersebut hampir mustahil mereka bisa lepas dari pasukan Fir’aun. Karena kondisi saat itu mereka hanya tinggal memiliki satu jalan, yaitu terjun ke laut! Yang tentu saja konsekuensinya adalah kematian. Logika kondisi dan tempat sudah sangat realistis mengatakan bahwa mereka pasti tertangkap. Begitu juga ketika Nabi Musa mendapat perintah untuk mengetukkan tongkatnya ke laut, hal itu masih dalam logika manusia. Tetapi ketika air laut terbelah dua, maka yang bermain di situ adalah logika robbaniyah. Ketika akal dan logika manusia sudah stuck, maka semuanya tinggal menunggu logika robbaniyah. (lagi…)

Mengambil Hikmah Dari Kasus Hilangnya Foto Istri Uje

Ditulis dalam Events, Islam, Mutiara Hikmah, Opinion, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada September 15, 2007

uje.jpg

Mungkin sebagian besar dari kita udah pada tahu terhadap kasus Uje (Ustadz Jefry Al Buchory) yang mengalami musibah kehilangan tas di pesawat milik Garuda beberapa hari lalu. Adapun tas tersebut banyak berisi barang berharga seperti 2 buah handphone, kartu kredit, uang dalam pecahan rupiah, dolar, riyal, dll. Namun yang paling memilukan bagi Uje katanya adalah yang hilang tersebut terdapatlah foto-foto istrinya pada masa dulu belum menggunakan jilbab!

Update: Berdasarkan konfirmasi langsung dari ukhti Pipik Uje di komentar posting ini, ternyata foto tersebut bukan berada di dalam HP atau handycam melainkan di dalam dompet Uje yg ikut hilang. Tapi oke lah walau pun agak sedikit membuat relevansi posting ini bergeser/berubah, tapi makna dan maksud tulisan blog ini tidak berubah. Trims.

Sungguh ini merupakan pelajaran berharga bagi kita yang sudah memiliki istri atau anak perempuan (yang sudah baligh) agar jangan pernah menyimpan foto tersebut dalam memori handphone atau handycam! Usahakan agar langsung disimpan ke hard disk komputer di rumah dan jangan di simpan di laptop. Karena pada prinsipnya produk handphone, handycam dan laptop adalah perangkat mobile yang dapat kadangkala secara tidak kita sadari bisa dilihat rekan/teman yang bukan muhrim serta memiliki potensi untuk mengalami kehilangan yang cukup tinggi. Sedangkan hard disk PC sifatnya menetap di rumah dan kebanyakan hanya dilihat oleh anggota keluarga saja. Kalau perlu (dan ini sendiri secara pribadi saya lakukan) jangan pernah mengambil foto mereka dalam keadaan tidak berjilbab, untuk memberi kita sebagai suami/kepala keluarga dan terutama mereka (istri/anak).

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran sekaligus hikmah dari kasus ini. Amien.

Pelayan dan Pemimpin

Ditulis dalam Fenomena, Mutiara Hikmah, Opinion, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada Juni 21, 2007

orator-small.gif

Bagi yang sudah pernah menggunakan jasa pembangu rumah tangga (khodimat), akan merasakan betapa besar jasa mereka dalam meringankan pekerjaan rumah tangga. Mau makan semua sudah tersedia di meja makan, tidak perlu mencuci piring, menanak nasi, berpanas-panas dan bau asap. Kurang sedikit tinggal teriak, pokoknya semua serba mudah dengan adanya pembantu.

Itulah jasa pembantu rumah tangga, tentu beda dengan pelayan yang lainnya. Pelayanan merupakan ujung tombak dalam semua organisasi. Dengan pelayanan yang prima, maka akan memunculkan kepercayaan. Dengan kepercayaan itulah orang akan memeberikan amanahnya kepada yang telah mereka uji pelayanannya.

Sang pelayan adalah manusia yang telah menyatukan hati dan jiwanya untuk semata-mata menghambakan diri kepada majikannya. Pelayanan dengan setulus hati akan tercermin dalam kinerja yang profesional.

Pelayanan sejati akan terhindar dari rasa malas, gengsi, merendahkan orang lain apalagi main perintah, dan segudang lagi perilaku yang tidak terpuji lainnya.

Pemimpin pada hakikatnya adalah sang pelayan umat. Yang harus selalu siap menyediakan jalan beraspal mulus. Menyediakan makanan bagi seluruh lapisan rakyatnya, mengatur tata kota agar senantiasa rapi, indah dan nyaman dihuni.

Yang membedakan pemimpin dan pelayan adalah, kalau pelayan tidak perlu berjiwa pemimpin, tapi kalau pemimpin mutlak berjiwa pelayan. Pemimpin yang tidak mempunyai jiwa pelayan biasanya hanya marah dan memerintah.

Jangan mimpi jadi pemimpin, kalau tidak ada jiwa pelayanan bersemayam di jiwa sanubari Anda.

Saya punya pengalaman tersendiri mengenai bagaimana sifat/perilaku pemimpin kita. Pada waktu itu ada acara seminar yang diselenggarakan oleh IKPM Sumsel Yogyakarta dengan pembicara para pejabat dari pemerintahan Sumatera Selatan di gedung MM UGM. Ceritanya saya baru masuk ke ruangan, dan masih berdiri di dekat pintu untuk mencari tempat duduk. Saya melihat ada seseorang yang kalau saya nilai pasti salah satu pejabat penting dari Sumsel. Ia juga baru masuk dan berdiri di sebelah saya untuk mencari tempat duduk, bedanya dengan saya ia seolah-olah kebingungan dan celingak celinguk mencari panitia dengan harapan bisa diantar ke “tempat duduk” yang semestinya. Setelah sekian lama akhirnya ada panitia yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan sedikit membungkukkan badan mempersilahkan pejabat tersebut untuk mengikutinya. Tapi ternyata sebelum beranjak pejabat tersebut dengan emosi setengah berteriak mengatakan “…saya ini tamu dan sudah lama berdiri di sini, kok gak ada panitia yang mengantarkan saya ke depan/tempat duduk sih…!!”. Saya yang mendengar itu langsung mengelus dada dan bergumam dalam hati, ya beginilah kalau pejabat yang masih bermental dilayani, apa-apa minta dilayani dan memarahi. Masak cuma duduk di depan pun harus diantar oleh panitia?? Kan udah kelaziman kalau orang penting itu dalam setiap acara duduknya ya di depan, kan tinggal masuk terus jalan ke depan ketemu kursi ya duduk. Ah itu aja kok repot…pejabat..pejabat… semoga generasi saya nanti ketika memimpin negeri ini tidak tertular dengan sifat seperti itu.

Sumber : Dikembangkan dari Editorial Majalah Beja Tahun II Edisi ke-13 Mei-Juni 2007

Foto : http://romisatriawahono.net/wp-content/uploads/2006/02/orator-small.gif

Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (4)

Ditulis dalam Hadits, Mutiara Hikmah oleh Ardiansyah pada Juni 8, 2007

“Bila kalian usai melakukan shalat, maka ucapkanlah subhaanallaah 33 kali, alhamdulilah 33 kali, Allahu akbar 33 kali dan walaa ilaaha illallah 10 kali. Sungguh, dengan itu kalian akan dapat menysul orang-orang yang mendahului kalian dan akan mendahului orang-orang yang sesudah kalian.”

Hadits ini dengan matan yang seperti itu dha’if. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Imam Nasa’i I/99, Tirmidzi II/264, dengan sanad dari Itab bin Basyir, dari Khushaif, dari Mujahid dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. Kemudian Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.”

Menurut saya (penulis buku –red), hadits ini dha’if sanadnya sebab Khushaif yang dikenal dengan nama Ibnu Abdur Rahman al-Jazri ini orangnya baik, namun sangat buruk hifizh-nya. Begitu juga dengan Itab yang dikenal baik namun sangat buruk hifizh-nya. Di samping itu, lafazh atau matan laa ilaaha illallah (10 kali) adalah tambahan munkar, bertentangan dengan hadits sahih yang saya utarakan dalam silsilah hadits-hadits sahih.

Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (3)

Ditulis dalam Hadits, Mutiara Hikmah oleh Ardiansyah pada Juni 1, 2007

“Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina.”

Riwayat ini batil. Inidiriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Asbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanad dari al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah bin Salman, dari Anas bin Malik r.a. Kemudian semuanya menambahkan lafazh fa inna thalabal ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin. Ibnu Adi berkata, “Tambahan kata walaw bish Shin kami tidak mengenalinya kecuali hanya datang dari al-Hasan bin Athiyah.” Begitu pula pernyataan al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam al-Fawa’id.

Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi sanad yang sangat dha’if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar riawatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini.

Ringkasnya, susunan dari hadits di atas adalah sangat dha’if atau bahkan sampai pada derajat batil. Saya (penulis buku -red) kira kebenaran ada pada ucapan Ibnu Hibban dan Ibnul Jauzi yang berkata bahwa hadits di atas tidak ada sanadnya yang baik atau bahkan dianggap baik sampai derajat dapat dikuatkan atau saling menguatkan antara satu sanad dengan sanad yang lainnya.

Adapun bagian kedua (tambahannya), mungkin dapat dinaikkan derajatnya kepada hadits hasan, seperti yang diutarakan oleh al-Mazi sebab sanadnya banyak yang bersumber pada Anas r.a. Dalam hal ini dari hasil penyelidikan yang saya lakukan, saya telah menemukan delapan sanad yang dapat diandalkan yang kesemuanya bersumber kepada sahabat Rasulullah saw., di antaranya adalah Anas, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Ali Abu Said, dan sebagainya. Hingga kini pun saya masih menelitinya hingga saya benar-benar yakin dalam memvonis sahih, hasan ataupun dha’if-nya sanad-sanad tersebut. Wallahu’alam.

Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (2)

Ditulis dalam Hadits, Mutiara Hikmah oleh Ardiansyah pada Mei 25, 2007

“Apabila seorang dari kalian menjimak istrinya atau budak wanitanya, maka jangan melihat kepada kemaluannya, karena yang demikian dapat menyebabkan kebutaan.”

Hadits ini maudhu’ dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dari riawayat Ibnu Adi I/44 dengan sanad dari Hisyam bin Khalif, dari Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari Atha, dari Ibnu Abbas r.a.

Ibnul Jauzi berkata, “Menurut Ibnu Hibban, Buqyah dahulunya suka meriwayatkan dari para pendusta dan suka mencampur-aduk perawi sanad, banyak mempunyai sahib dhu’afa dalam meriwayatkan hadits. Riawat ini boleh jadi merupakan salah satu yang diriwiyatkan dari sanad yang dha’if, yaitu Ibnu Juraij, kemudian di-tadlis-kan (campur aduk) . Hadits ini adalah maudhu’. (lagi…)

Halaman Berikutnya »