Ardiansyah


Pindah ke Blog http://blog.uad.ac.id/ardi

Terhitung hari ini, maka secara resmi saya telah memindahkan blog http://4rd1.wordpress.com ke alamat baru yaitu http://blog.uad.ac.id/ardi.

Semoga bisa maklum, atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Tenang Saja, Konsumen Akhirnya Beli Juga Kok…

Ditulis dalam 1, Bisnis, Curhat, Entrepreneurship, Fenomena, Opinion, Praktek Bisnis oleh Ardiansyah pada Juli 16, 2008

Saya dan Anda pasti sering melihat secara sengaja atau tidak produk-produk yang diiklankan dan terpampang mulai dari bentuk spanduk, surat kabar, iklan baris, kolom, baliho, reklame, televisi, radio, dll. Pada awalnya kita mungkin cukup tertarik ketika melihat sebuah produk dengan berkata dalam hati, “…hmmm, bagus juga tuh produk, suatu saat beli ah….“.

Hari berganti hari dan minggu berganti minggu, mungkin kita telah lupa dengan niat tersebut. Nah, suatu hari kita melihat kembali iklan produk tersebut dan lantas teringat kembali dengan niat kita untuk membeli produk tersebut, tapi karena hari itu kita sangat sibuk dengan kerjaan rutin, akhirnya niat tersebut tertunda kembali. (lagi…)

Akhirat di Hati Dunia di Tangan

Ditulis dalam Curhat, Fenomena, Gaya Hidup, Islam, Mutiara Hikmah, Opinion, Religion Activity, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada Mei 22, 2008

Jujur, setiap hari ketika menjelang dan bangun dari tidur apakah yang sering menjadi evaluasi personal kita dengan apa yang telah kita lakukan hari ini? Apakah penuh dengan urusan pekerjaan yang tak kunjung selesai, proyek yang tak kunjung dapat, mobil dan rumah impian yang belum terwujud, khawatir tidak memiliki uang ketika anak akan masuk sekolah, sibuk dengan iri terhadap teman kantor/tetangga yang sudah menambah mobil dan rumah baru, dan hal-hal yang terkait dengan itu.
(lagi…)

Fadel Muhammad & Entrepreneurship Government

Ditulis dalam 1, Bisnis, Entrepreneurship, Fenomena, Opinion, Praktek Bisnis, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada Mei 16, 2008

Sudah lama saya mengagumi kiprah dan sepak terjang Fadel Muhammad sejak menjadi gubernur Gorontalo. Fadel yang juga seorang pengusaha yang menjadi tokoh nasional ternyata mau terjun ke daerah untuk memimpin sebuah provinsi baru waktu itu yaitu Gorontalo.

Adapun yang menjadi kekaguman saya adalah kesuksesan Fadel yang memiliki jiwa wirausaha dalam mengembangkan Gorontalo. Dia faham bahwa untuk menjadi sebuah propinsi yang memiliki nilai jual tinggi maka harus ada pula komoditi yang menjadi andalan propinsi yang dipimpinnya tersebut berdasarkan kompetensi dan keunggulan lokal yang dimiliki. Coba ingat kembali beberapa tahun ke belakang, kita mungkin berkata “apa sih yang bisa diandalkan di Gorontalo”?. Dan pilihan Fadel tidak salah yaitu dengan memilih jagung sebagai komoditas utamanya. Dengan begitu dia langsung fokus dalam pengembangan agro industri jagung ini dari tahun ke tahun. Hasilnya komoditi jagung menjadi sumber penghasilan pendapatan daerah terbesar di propinsi tersebut yang malahan sudah diekspor ke Malaysia dan Philipina. Di sinilah letak entrepreneurship government yang diterapkan Fadel terbukti berhasil, yaitu dengan fokus “berbisnis jagung”, menyiapkan seluruh sarana, prasarana, infrastruktur, suprastruktur ditambah lagi pengalaman Fadel sebagai seorang pebisnis yang tentu saja sangat membantu ke arah keberhasilan “bisnis jagung” di Gorontalo tersebut.

Mental seperti inilah yang diharapkan bisa diterapkan oleh para kepala daerah di seluruh Indonesia, yang mampu mengoptimalkan berbagai potensi besar dari komoditi yang bisa dikembangkan di daerah masing-masing, sehingga dapat mengurangi ketergantungan yang besar pada pendapatan dari pajak. Dengan kejelian para pemimpin daerah dan fokus dalam membesarkan komoditi daerahnya bukan tidak mungkin daerah-daerah Indonesia akan menjadi makmur.

Launching for Marketer & Entrepreneur

Ditulis dalam Bisnis, Books, Entrepreneurship, Finance, Opinion, Praktek Bisnis oleh Ardiansyah pada April 24, 2008

Baru saja kemarin menyelesaikan satu buku lagi, yaitu tulisan Simon Jonatan berjudul Launching for Marketer and Entrepreneur. Buku ini termasuk buku pertama yang khusus mengulas tentang strategi launching tidak hanya sasarannya bagi para marketer tapi juga bari entrepreneur. Penulis buku ini juga seorang yang sudah kenyang pengalaman yang sukses dalam meluncurkan produk seperti Extra Joss. Secara keseluruhan ada satu pejalaran yang bisa saya ambil yaitu launching adalah akhir dari sebuah persiapan panjang dan awal dari sebuah perjalanan panjang sebuah produk. Karena banyak perusahaan yang sangat semangat di awal hingga hingar bingar peluncuran. Tetapi setelah itu mereka sudah kehabisan energi untuk mem-follow up pasca peluncuran, sehingga bukanlah kesuksesan produk yang diraih melainkan kegagalan.

Yang membuat buku ini sarat pelajaran berharga dikarenakan banyak sharing pengalaman dari para profesional dan entrepreneur tingkat nasional mulai dari Irwan Hidayat (Sidomuncul), dr. Boenjamin (Bintang Toedjo), Barry Lesmana (perbankan), Sudhamek AWS (Garudafood), Yoe Kok Lin (Merit), Angky Camaro (Sampoerna), Harry Sanusi (Kino), Hasnul Suhaimi (Excelmindo Pratama), Johnny Andrean (BreadTalk, J.CO), Johny Darmawan (Toyota), Muhammad Warsianto (Rokok), Pranoto Widjojo (Tje Fuk), Willy Sidharta (Aqua).

Ahlan Wasahlan

Ditulis dalam Curhat, Education, Events, Islam, Religion Activity oleh Ardiansyah pada April 24, 2008

Semalam untuk pertama kalinya saya mulai kursus privat bahasa Arab bersama teman-teman. Kami memilih khsusus metode kursus yang didesain untuk percakapan. Kesan pertama belajar terus terang saya seperti anak kecil yang harus belajar ngomong, sulit sekali. Apalagi kita harus memaksa diri untuk lancar dan cepat membaca tulisan Arab gundul. Tapi secara keseluruhan, alhamdulilah semakin membuat saya cinta dengan bahasa Arab, karena susunan kata-katanya itu begitu menakjubkan dan indah, misal untuk kata ganti orang/benda dalam bahasa Arab bisa mencapai 15 lebih kata ganti! Belum lagi nanti urusan nahwu sharaf nya yang harus saya pelajari dengan serius. Wah asyik nih kayaknya.

Ada beberapa motivasi mengapa saya memutuskan mengambil kursus bahasa Arab, mulai dari agar mudah dalam mengartikan dan men-tadabburi makna yang terkandung di dalam Al Qur’an, memudahkan percakapan bila bertemu orang Arab dan terakhir persiapan nantinya bila mulai mengepakkan sayap bisnis di wilayah Timur Tengah tersebut.

The Power of Monday Spirit

Mungkin kita bersama sering merasakan sensasi hari Senin. Lihatlah bagaimana ketika waktu sudah menggiring masuk ke hari Senin setiap minggu, di mana, setiap orang akan (di luar anggapan yang mengatakan I hate monday) :

merasa memiliki semangat baru untuk memulai aktivitas

seluruh ruas jalan mulai ramai dijejali kendaraan bermotor

seluruh jantung-jantung perekonomian berdetak kencang di seluruh sektor

uang yang mengalir deras dari satu rekening ke rekening yang lain

statistik blog yang meningkat tajam :)

ada yang mau menambahkan …?

Quick Response dan Komunikatif, Kunci Memuaskan Pelanggan

Ditulis dalam Bisnis, Entrepreneurship, Events, Fenomena, Opinion, Praktek Bisnis oleh Ardiansyah pada Februari 3, 2008
Dari pengalaman yang saya rasakan telah membuktikan bahwa salah satu kunci sukses dalam memuaskan pelanggan adalah respon yang cepat serta komunikatif. Ambil contoh misalnya, pelanggan telah melakukan pembayaran maka seharusnya dengan cepat kita langsung memberikan konfirmasi bahwa pembayaran mereka telah kita terima. Ternyata walau terlihat remeh, hal ini dapat membuat pelanggan merasa aman dan nyaman.
Berikutnya adalah komunikatif, dalam hal ini yang saya rasakan adalah sekecil apa pun masalah yang sedang kita alami, apabila ada layanan yang bakal mengganggu kenyamanan konsumen/pelanggan selayaknya kita beritahu, agar mereka memaklumi dan juga yang paling penting bagi kita adalah menghindari “sumpah serapah” atau komplain dari konsumen.
Ingat, lebih banyak konsumen yang menceritakan kejelekan suatu produk kepada orang lain, dibanding menceritakan kelebihan suatu produk kepada orang lain.

Kemunduran Kualitas Shalat Jum’at ?

Ditulis dalam Fenomena, Islam, Mutiara Hikmah, Opinion, Religion Activity oleh Ardiansyah pada Februari 2, 2008
Sudah beberapa tahun belakangan saya sering mengamati baik shalat Jum’at di masjid lingkungan rumah maupun di masjid kampus, bahwa semakin-hari semakin banyak saja jamaah shalat jum’at yang datang ke masjid sesuah khutbah pertama selesai! Bahkan kalau saya perhatikan dari langkah kaki mereka kayaknya tidak ada kesan tergopoh-gopoh karena telat atau merasa tertinggal shalat! Melainkan langkah kaki yang santai dan biasa saja!
Waduh, miris sekali melihatnya. Ada apa ini? Apakah di sekolah dan keluarga sudah tidak diajari lagi bahwa mengikuti dua khutbah adalah WAJIB. Hal ini juga yang kerap disampaikan oleh bapak Kurdi, seorang dosen senior di UAD. Beliau bahkan dengan keras memperingatkan jamaah yang terlambat datang tersebut ketika sedang berada di atas mimbar Jum’at.
Kira-kira apa ya masalahnya? Kalau saya melongok kembali di masa kecil dulu, kuatnya doktrin dan ajaran ketika mengaji di kampung dan ketika belajar agama di sekolah telah membentuk kuat dan terpatri di ingatan bahwa mengikuti dua khutbah Jum’at tersebut adalah wajib,  karena merupakan rukun wajib sholat Jum’at. Jadi bila tidak dipenuhi salah satunya berarti bisa dikatakan tidak sah dong sholatnya. Nah, apakah generasi sekarang ini sudah kendur ajaran seperti itu sejak kecil? Berarti pendidikan agama kita sudah mundur jauh nih…. astaghfirullah.

Memberi Contoh atau Menjadi Contoh?

Ditulis dalam Bisnis, Education, Entrepreneurship, Fenomena, Opinion, Praktek Bisnis, Sosial Politik oleh Ardiansyah pada Januari 22, 2008
Pernah nggak dalam keseharian kita melihat beberapa tipe orang yang begitu senang dan bersemangat menceritakan keberhasilan/kesuksesan orang lain? Misalnya hari ini ia dengan fasih bercerita tentang kesuksesan si A dari mulai nol hingga berhasil sekarang. Di lain waktu ia juga menceritakan tentang kehebatan si B karena sangat gigih dan ulet hingga bisa berhasil.
Terus terang kalau saya sudah sering melihat orang seperti ini. Di satu sisi ia sangat hafal dengan keberhasilan orang lain, sehingga seharusnya secara tidak langsung ia juga bisa paham dan tahu bagaimana mencapai keberhasilan/kesuksesan orang yang ia ceritakan tersebut. Namun ternyata cerita hanya tinggal cerita, orang tersebut hanya bisa sebagai “jubir” keberhasilan orang yang diceritakannya, karena dalam praktek kehidupannya sendiri, sangat jauh dari apa-apa yang ia ceritakan tersebut. Memang ya, sepertinya kalau sekedar memberi contoh sangat gampang dibanding menjadi contoh. Anda mau jadi yang mana?
Halaman Berikutnya »