Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (2)

“Apabila seorang dari kalian menjimak istrinya atau budak wanitanya, maka jangan melihat kepada kemaluannya, karena yang demikian dapat menyebabkan kebutaan.”

Hadits ini maudhu’ dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dari riawayat Ibnu Adi I/44 dengan sanad dari Hisyam bin Khalif, dari Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari Atha, dari Ibnu Abbas r.a.

Ibnul Jauzi berkata, “Menurut Ibnu Hibban, Buqyah dahulunya suka meriwayatkan dari para pendusta dan suka mencampur-aduk perawi sanad, banyak mempunyai sahib dhu’afa dalam meriwayatkan hadits. Riawat ini boleh jadi merupakan salah satu yang diriwiyatkan dari sanad yang dha’if, yaitu Ibnu Juraij, kemudian di-tadlis-kan (campur aduk) . Hadits ini adalah maudhu’.

As-Suyuthi dalam kitabnya al-La’ali II/170 menegaskan pernyataan Ibnu Abi Hatim yang mengutip dari ayahnya yang menyatakan persis seperti pernyataan Ibnu Hibban.

Penilaian di atas dari segi sanadnya. Adapun dari segi maknanya, ia bertentangan dengan hadits sahih yang ada dalam Shahiaini dan Ashabus Sunan lainnya, yang menyebutkan bahwa Aisyah r.a. mandi bersama dengan Rasulullah saw. dengan bergantian gayungnya, dan bahkan disebutkan saling berebutan gayung. Hadits tersebut dengan jelas menunjukkan pembolehan suami istri saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh.

Yang lebih menguatkan hal ini adalah Ibnu Hibban dari sanad Sulaiman bin Musa bahwasanya ia ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan istrinya, maka ia menjawab, “Aku tanyakan kepada Atha, maka ia menajawab, ‘Aku tanyakan kepada Aisyah r.a., maka ia menjawab seraya menyebutkan hadits.'”

Demikianlah penjelasan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari I/190. Ia berkata, “Inilah nash tentang pembolehan suami melihat kemaluan istrinya, atau sebaliknya, yakni sang istri melihat kemaluan suaminya.”

Apabila telah jelas hal ini bagi pembaca, maka tampaklah kepalsuan dan batalnya hadits dalam bab ini. Di samping itu, secara logika pun, bila direnungkan sejenak saja akan tampak jelas kepalsuan hadits tersebut. Yaitu, yang dimaksud dengan pengharaman di situ adalah hal-hal atau sarana yang menyampaikan kepada terjadinya suatu persetubuhan (tentu yang dimaksudkan adalah perzinaan). Lalu, bila Allah SWT telah menghalalkan bagi sang suami untuk menyetubuhi istrinya, apakah masuk akal bila Allah melarangnya melihat kemaluan istrinya?

Sumber : Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ Jilid 1

Penulis : Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Penerbit : Gema Insani Press, 1995

Pos ini dipublikasikan di Hadits, Mutiara Hikmah. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (2)

  1. faruk04018.. berkata:

    aslm ,, pak saya menulis tanggapan di “nyaman menggunakan sikat gigi formula” kok saya lihat lama ga ada tanggapan dari bapak????knp?

  2. islam feminis berkata:

    Kutipan dan ungkapan anda yang menyatakan:

    “Aisyah r.a. mandi bersama dengan Rasulullah saw. dengan bergantian gayungnya, dan bahkan disebutkan saling berebutan gayung. Hadits tersebut dengan jelas menunjukkan pembolehan suami istri saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh.

    Yang lebih menguatkan hal ini adalah Ibnu Hibban dari sanad Sulaiman bin Musa bahwasanya ia ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan istrinya, maka ia menjawab, “Aku tanyakan kepada Atha, maka ia menajawab, ‘Aku tanyakan kepada Aisyah r.a., maka ia menjawab seraya menyebutkan hadits.’”

    Demikianlah penjelasan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari I/190. Ia berkata, “Inilah nash tentang pembolehan suami melihat kemaluan istrinya, atau sebaliknya, yakni sang istri melihat kemaluan suaminya.””

    Dapat dikritisi bahwa;
    Pertama: Hadis-hadis di atas jelas hanya membuktikan akan diperbolehkannya melihat kemaluan istri saja, bukan sewaktu berhubungan biologis.
    Kedua: Pelarangan dalam hadis itu (larangan melihat kemaluan istri waktu berjima’) bukan sampai derajat haram, akan tetapi hanya bersikap makruh saja. Dan kita pun telah menjelaskannya hal itu (bukan haram).
    Ketiga: Tidak tahu relasi antara ‘sebab-akibat’ bukan lantas harus meniscayakan ketiadaan sebab-akibat, karena hukum kausalitas itu bersifat global, kecuali dalam masalah eksistensi Allah.
    Keempat: Hadis yang saya sebutkan, bersumber dari Ahlul Bait (keluarga) Nabi, yang otomatis lebih tahu banyak tentang apa dan siapa Nabi. Jadi, kalau ada hadis yang sama tetapi diriwayatkan dari orang lain yang tidak dapat dipercaya, maka bukan berarti langsung ditolak. Karena masih ada hadis dengan perawi lain yang masih bisa dipercaya.

    Terimakasih

  3. abu jihad berkata:

    kayaknya asatidz pengelola blog islam feminis Syiah ya? kalo Syiah jangan ambil tuh bahasannya, ati2!

    • yasir arafat berkata:

      mhn maf, ingin lebih tau ada apa dgn Syiah… mhn info.krn sy jga sdikit agak aneh dgn pmbhsan islm feminis.mksi

  4. rusman berkata:

    @abu jihad
    comment anda: “kayaknya asatidz pengelola blog islam feminis Syiah ya? kalo Syiah jangan ambil tuh bahasannya, ati2!”

    apa termasuk jihad nih??
    hmmm… parah…parah… abu jihad..abu jihad…
    berbicara tanpa ilmu ya beginilah jadinya anda…

    • naruto berkata:

      islam feminis memang dari syiah… kalo bicara syiah maka persoalan sdh jelas… jelas menyimpang jauh dari islam..
      kalo anda syiah, maka beginilah jadinya anda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s