Sebegitu Kuatnya kah PKS di Jakarta?

Melihat tingkat konstilasi politik di Jakarta dalam menjelanga Pilkada bulan Agustus besok turut membuat saya ingin memberikan unek-unek (sebagai orang awam lho…). Kita tahu bahwa PKS adalah partai yang memenangkan Pemilu 2004 di Jakarta. Nah, untuk ikut pada Pilkada ini PKSL otomatis udah lolos ET. Di samping itu ada beberapa partai lain yang bisa mencalonkan sendiri Cagubnya, kalo gak salah PD, Golkar, PDIP. Tetapi ternyata mereka bergabung dalam koalisi besar untuk mengusung Foke gak tanggung-tanggung ada 13 partai besar dan kecil. Kalo saya melihat dari luar sih kayaknya mereka semua ketakutan ya melihat PKS. Hee…he, emang sekuatnya apa sih PKS kok sampai partai-partai yang sudah besar, kuat semacam PDIP, Golkar, PPP, Demokrat harus koalisi segala.

 

Kalo mau melihat kekuatan sebenarnya PKS dan PD hasil perolehan suara mereka di Jakarta gak terpaut jauh, seharusnya dalam logika saya PD bisa mengusung Cagub sendiri, ini kok malah ikut koalisi, padahal kan banyak sekali kader-kader dari Parti mereka yang capable untuk menjadi Cagub. Berarti dari kondisi di atas dapat saya ambil kesimpulan bahwa di Jakarta nih sepertinya PKS memang menjadi parpol dengan kekuatan tersendiri. Mungkin saja ini salah satu bukti ketakukan para Parpol besar tersebut karena kayaknya mereka tidak rela Jakarta lepas ke PKS lagi, karena sebelumnya hampir wilayah Jabodetabek dimenangkan oleh PKS semua. Ah.. begitulah politik, tidak bisa diprediksi, selalu berubah dan membingungkan.

Pos ini dipublikasikan di Fenomena, Opinion. Tandai permalink.

9 Balasan ke Sebegitu Kuatnya kah PKS di Jakarta?

  1. fR3dDy berkata:

    Kedua partai tersebut (PD dan PKS) bisa mendapat suara terbanyak di Jakarta pada pemilu lalu akibat citra PDI P yang “tidak sesuai dengan harapan”.
    Dan sekarang citra Partai Demokrat sendiri telah berkurang di mata masyarakat Indonesia seiiring merosotnya popularitas Presiden SBY . Boleh dikatakan PD berjaya karena SBY .
    PKS sendiri berjaya karena “nama bersih” dan keaktifan para kadernya di lingkungan masyarakat Jakarta.
    Untuk saat ini, memang tidak bisa dipungkiri PKS punya arti sendiri bagi masyarakat Jakarta, mungkin menyangkut masalah idealisme dan atau lain sebagainya.
    Perlu diketahui , arah pergerakan PKS sendiri telah menembus sampai kampus dan sekolah. Suatu hal yang jarang bagi partai-partai lainnya.

    Jadi semuanya, kembali ke citra tiap-tiap partai dan terutama (saat ini) Cagub dan Cawagub yang sedang “bertarung” saat ini.

  2. irfan berkata:

    wah ga dong politik aku hehe

  3. Ardiansyah berkata:

    Wah mas Irfan harus dong politik ya, walaupun sedikit, agar nantinya tidak dipermainkan gelombang politik. Karena pendidikan politik merupakan salah satu ilmu mendasar (basic knowledge) ketika kita menjadi mahasiswa. Jangan cuma ngoprek aja yo…. he..he..he..

  4. irfan berkata:

    Hehe iya pak, siapa tau ntar aku dicalonkan jadi Presiden 2009 biar ga kaget.

  5. Ardiansyah berkata:

    He..he.. 2009 menjadi RI 1 semoga aja ya, dari partai apa ?

  6. Ardiansyah berkata:

    He..he.. 2009 menjadi RI 1 semoga aja ya, dari partai apa ? ngomong2 bagaimana dengan software2 under Ubuntu Linux untuk menggantikan under Windows? Udah dikompilasi? Karena dosen2 Informatika mau diperlihatkan/didemokan dulu, baru kalo yakin mereka akan mau migrasi di semester depan, kalo bisa segera ya?

  7. Mahameru berkata:

    Fakta Pemilu 2004 memang menunjukan bahwa PKS adalah pemenang di Jakarta. Itu sebuah fenomena kekuatan baru. Tapi, jika merujuk pada Pilkada Jakarta saat ini. Kayaknya kok, agak aneh juga melihat PKS yang terkenal jujur dan bersih.
    Terlebih PKS sangat dikenal solid dalam membangun kadernya. Mengapa harus mengusung calon yang bukan kadernya (Adang Darajatun). Memang, calon wakilnya Dani Anwar bisa dibilang sebagai orang dalam PKS, tapi posisinya hanya sebagai orang kedua. Entah apa yang menjadi kalkulasi PKS mengusung mantan Wakapolri itu.
    Melihat kondisi itu saya jadi ingat ucapan kader PAN AM Fatwa (saya bukan pendukung PAN–kalau boleh jujur, selama berhak untuk memilih di negeri ini, saya tidak pernah terlibat dalam pemilihan suara alias golput) yang menyebutkan, partai politik terjebak pragmatisme.
    Padahal, parpol sejatinya sebagai tempat melahirkan kader-kader pemimpin berkualitas yang diharapkan dapat menjadi pemimpin bangsa yang baik pada skala lokal maupun nasional.
    Atau mungkin pernyataan pak Fatwa yang menyebutkan karena alasan “partai kita butuh duit”, tak apalah mengusung orang yang bukan kader.
    Tidak bisa dimungkiri jika parpol butuh dana besar. Tapi, haruskan mengorbankan idealisme dan soliditas kaderisme. Setidaknya, PIlkada Jakarta bisa dibilang sebagai contoh kepentingan pragmatis parpol.
    Tapi, apapun itu biarlah rakyat yang menentukan siapa yang terbaik buat mereka. Terpenting, perubahan yang dijanjikan para calon harus bisa diwujudkan. Bukan hanya sebatas lips service semata. Karena jika itu yang terjadi, untuk kesekian kalinya rakyat harus mendapat pemimpin MUNAFIK.

  8. Ardiansyah berkata:

    Ya bisa jadi untuk saat ini kalo mengusung kader internal PKS belum “PD”. Sehingga mengusung kader luar yang kapabilitas n kualitas yg sesuai dengan karakteristik PKS. Ya namanya politik kayak sepakbola, banyak pake tak tik, yang menonton geram n deg2an, kadang menghina, mengumpat kayak pinter main bola aja, padahal cuma duduk santai di rumah sambil nonton TV tanpa pernah merasakan “lapangan” bola yang sesungguhnya.

  9. Santoso berkata:

    Tanggal 8 bulan 8 menjadi pembuktian, ternyata PKS masih mempunyai “taji” untuk menunjukkan kepada partai besar khususnya di jakarta…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s