Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (4)

“Bila kalian usai melakukan shalat, maka ucapkanlah subhaanallaah 33 kali, alhamdulilah 33 kali, Allahu akbar 33 kali dan walaa ilaaha illallah 10 kali. Sungguh, dengan itu kalian akan dapat menysul orang-orang yang mendahului kalian dan akan mendahului orang-orang yang sesudah kalian.”

Hadits ini dengan matan yang seperti itu dha’if. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Imam Nasa’i I/99, Tirmidzi II/264, dengan sanad dari Itab bin Basyir, dari Khushaif, dari Mujahid dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. Kemudian Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.”

Menurut saya (penulis buku –red), hadits ini dha’if sanadnya sebab Khushaif yang dikenal dengan nama Ibnu Abdur Rahman al-Jazri ini orangnya baik, namun sangat buruk hifizh-nya. Begitu juga dengan Itab yang dikenal baik namun sangat buruk hifizh-nya. Di samping itu, lafazh atau matan laa ilaaha illallah (10 kali) adalah tambahan munkar, bertentangan dengan hadits sahih yang saya utarakan dalam silsilah hadits-hadits sahih.

Pos ini dipublikasikan di Hadits, Mutiara Hikmah. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kutipan Hadits Palsu yang Sangat Populer di Masyarakat (4)

  1. Indra Pramadhita berkata:

    mmmm…. yang bener pa..???
    memang sih selama ini saya blm pernah menemukan penjelasan yang rinci tentang bacaan setelah shalat. hanya saja sering saya temukan dalam buku-buku tuntunan shalat…
    bisa bpk jelaskan dari mana bapa,…. dapat informasi ini..???

  2. Ardiansyah berkata:

    Hadits-hadits yang saya tulis saya kutip dari buku berjudul “Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ Jilid 1” Penulis : Muhammad Nashiruddin Al-Albani
    Penerbit : Gema Insani Press, 1995.

  3. muhammad eri berkata:

    kalau memang daif matan seperti itu yang sahihnya seperti apa bunyinya

  4. AHMAD JAHID berkata:

    HADITS PALSU MEMANG BANYAK YANG BEREDAR DI MASYARAKAT LUAS , BEGITU LUASNYA PEREDARAN HADITS PALSU DARI KOTA SAMPAI KE PUCUK GUNUNG . SEHINGGA UNTUK MEYAMPAIKAN KEPADA UMMAT PERLU CARA-CARA YANG BIJAKSANA AGAR DAPAT DITERIMA DENGAN BAIK, PENCRDASAN DAN PENCERAHAN UMMAT SANGAT DIPERLUKAN. PENGALAMAN PRIBADI MENUNJUKKAN , PADA SUATU KETIKA SAYA MENJELAS KAN SEBUAH UNGKAPAN YANG DI ANGGAP HADITS OLEH MASYARAKAT BEGITU SAYA JELASKAN BAHWA ITU UKAN HADITS , SAYA DI PROTES. BAHWA UCAPAN TERSEBUT SERING DIBAWAKAN DAN DISAMPAIKAN OLEH USTAZD YANG SANGAT TERKENAL DI INDONESIA , KEMUDIAN SAYA ILUSTRASIKAN BAHWA KITA SERING MAKAN BAKSO YANG SUDAH MASAK DAN DIMASAK OLEH TUKANG BAKSO TINGGAL MAKAN SAJA , NAMUN KITA TIDAK PERNAH TAHU BAHWA BAKSO SAPI YANG ASLI ITU YANG BAGAIMANA , KOMPOSINYA BUMBUNYA DAGINGNYA RASANYA DAN SEBAGAINYA. JADI USTAZD KITA SEBAGIAN BESAR DIINDONESIA INI MAKAN BAKSO YANG SUDAH DIMASAK ITU. JANGAN KAN USTAZD KITA DISINI. IMAM AL-GHOZALI SEKALIPUN BELIAU DISEBUT HUJJATUL ISLAM YANG MENULIS BANYAK BUKU, DIANTARANYA KITAB IHYA’ULUMUDDIN BANYAK MENCANTUM KAN HADITS-HADITS PALSU DAN DHOIF PALSU. ITULAH SEKEDAR INFORMASI DAN URU RENMBUG SAYA SEMOGA KEMURNIAN SUNNAH AKAN TERWUJUD AMIN.

  5. benny afwadzi berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Validitas hadis memang jadi bahan perdebatan. baik bagi intelektual klasik maupun kontemporer. metode yang dipakai pun sangat bervariasi. ada yang tasahul dalam mendhoifkan, dan ada pula yang tasahul dalam menshahihkan hadis.
    Albani dan Ibnu Jauzi merupakan contoh dua ulama hadis yang sangat mudah dalam mendoifkan hadis. mereka dengan metode ekstrem langsung menjatuhkan vonis dhaif bahkan maudlu’ dalam sebuah hadis apabila terdapat kecacatan atau jarh oleh seorang kritikus hadis. sedangkan ulama lain semisal Imam Nawawi, pengarang kitab syarah shahih muslim dan kitab-kitab lain tidak begitu keras dalam menentukan validitas suatu hadis. kriteria yang dipakai dalam ilmu jarh wa ta’dil pun tak sekeras albani maupun Ibnu Jauzi.
    namun, yang perlu diketahui, dalam paradigma keilmuan hadis yang disepakati jumhur sebagaimana yang dikemukakan Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa hadis dhaif bisa dipakai apabila untuk mawa’id dan fadhail al-A’mal. anda yang ahli hadis pasti tahu hal itu. hadis dhaif bukanlah hadis yang tidak berasal dari Rasulullah, tapi cuma diragukan kesahihannya. jadi kita tidak bisa dengan serta merta ini bukan berasal dari Rasulullah.
    kembali pada persoalan hadis tersebut, perlu diketahui bahwa Nasai dan Tirmidzi merupakan dua ulama hadis yang diakui kapasitasnya. keduanya memiliki dua kitab hadis yang termasuk dalam kutub al-Sittah, yakni sunan tirnmidzi dan sunan nasai. sehingga kadar keshahihannya bisa dipertanggung jawabkan.
    kemudian yang menjadi persoalan, apakah metode albani dan Imam Nasai serta Tirmidzi sama? pasti berbeda. Imam Nasai dan Tirmidzi sebagai ulama klasik yang notabene masanya lebih dekat dengan Nabi tentunya memiliki metode yang berbeda, baik dalam kaidah jarh wa ta’dil dan lain-lain. sehingga kesimpulan yang diambil pun berbeda.
    kemudian menurut saya, kelemahan sebagian umat Islam era sekarang adalah tidak mau menelaah kitab-kitab yang dikarang oleh ulama klasik. saya tak tahu, apakah alasan mereka karena takut jumud atau adanya jargon kembali pada Qur’an dan Hadis yang dimaknai secara tekstual. namun, saya berpesan cobalah pelajari kitab-kitab klasik, semisal al-Adzkar al-Nawawi. niscaya anda akan menemukan solusi atas problematika hadis yang anda bahas diatas. kalau anda tak bisa terjemahkan berarti anda harus cari terjemahannya. tapi cari terjemahan yang representatif, sebab terjemahan sebenarnya tak bisa mewakili pesan yang sebenarnya ada dalam teks yang diterjemah.
    sedikit menyinggung masalah jargon kembali pada al-Qur’an dan hadis dan menghilangkan mengikuti pendapat ulama, apakah tidak pernah berpikir. bukankah ulama juga mengikuti Qur’an dan hadis? al-Ulama’ warasatul anbiya’. kita perlu ketahui, bahwa Qur’an dan Hadis itu multi tafsir, sehingga dalam perkembangannya muncul berbagai macam madzhab dan aliran. terus yang jadi permasalannya, apakah kita mampu memahami Qur’an dan Hadis secara langsung? sudah pahamkah kita pada metode tafsir? sudah pahamkah kita pada ulumul Qur’an? sudah pahamkah kita pada ulumul hadis? sudah berapa juz Qur’an dan ribuan hadis yang kita hafal? sehingga kita dengan beraninya langsung memahami keduanya. jawab!
    menurut saya, saudara adalah pengikut setia albani yang memang banyak diikuti oleh orang-orang wahabi. sehingga pendapatnya selalu dipakai dan meniadakan pendapat-pendapat ulama selainnya.
    MOhon maaf kata-kata saya sedikit agak kasar, tapi memang inilah semangat dakwah saya, sehingga kita tidak serta merta meniadakan hadis dhaif. apalagi hadis yang masih bisa diperdebatkan kesahihannya seperti hadis yang anda paparkan diatas.
    wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  6. benny afwadzi berkata:

    Owalah, sorry kalau tadi saya juga membahas masalah jargon kembali pada Qurdis, tapi saya kira masih asa hubunganya. sebab menurut generalisasi saya, anda adalah orang bertipe demikian. mohon maaf kalau salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s