Aspek Penting dalam Website E-Government

Oleh : Dr. Richardus Eko Indrajit

Kajian Kualitas Website Anggota Kongres di AS

Banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari hasil riset Congressional Management Foundation terhadap 605 website para wakil rakyat AS-baik yang di “Dewan Perwakilan Rakyat”-nya (House of Representative) maupun di “Dewan Perwakilan Negara Bagian”-nya (Senat). Hasil riset memperlihatkan bahwa terdapat 5 (lima) aspek penting yang harus diperhatikan oleh mereka yang ingin membangun website e-government, yakni: audience, content, interactivity, usability dan innovation.

Audience

Pada hakikatnya, website adalah alat berkomunikasi. Komunikasi menjadi efektif jika pemerintah dapat mendefenisikan secara jelas siapa audience-nya, sehingga isi website benar-benar dapat diarahkan untuk melayani komunitas tersebut. Sekilas tampaknya ini mudah dilaksanakan. Namun ini mudah dilaksanakan. Namun kenyataannya, banyak yang gagal melakukannya karena lupa pada sejumlah hal yang bersifat esensial.

Website bukanlah medium broadcast, seperti televisi atau radio, tetapi lebih merupakan medium pelayanan. Berbeda dengan medium pelayanan. Berbeda dengan medium broadcast yang bekerja berdasarkan asas “satu pesan untuk seluruh kalangan”, pada medium pelayanan sebuah website harus dapat melayani sejumlah kebutuhan spesifik dari beragam kalangan. Tentu ini tak mudah, mengingat pemerintah “tidak memiliki kekuatan” untuk menentukan siapa saja yang berhak mengakses website-nya.

Secara garis besar, ada dua tipe audience, yakni seekers dan recruits. Seekers merupakan orang-orang yang berkunjung ke website yang semuanya bermuara pada pemenuhan terhadap kebutuhan akan informasi atua pelayanan tertentu. Sementara itu, recruits adalah kumpulan dari orang-orang yang menjadi target komunikasi pemerintah. Secara prinsip, seekers merupakan audience utama dari website e-government, di mana biasanya pemerintah bersifat “reaktif” dalam melayani kebutuhan mereka. Para seekers memiliki sejumlah kebutuhan, pertanyaan, harapan, dan masalah yang diharapkan dapat menemukan jawabannya dalam website terkait.

Pemerintah harus jeli dalam menentukan apa saja yang dibutuhkan oleh beragam tipe seekers yang berkunjung ke website-nya. Misalnya, audience yang mewakili sejumlah kepentingan, seperti konstituen, pers, lembaga swadaya masyarakat, forum atau organisasi, para mahasiswa dan peneliti, lembaga internasional, dan sebagainya. Sementara itu, secara bersamaan pemerintah juga mencoba besifat “proaktif, dalam arti mendekati dan membangun relasi baik dengan sejumlah recruits atau “orang-orang baru” yang diharapkan dapat merasakan manfaat kehadiran website pemerintah terkait. Sehubungan dengan itu, pemerintah harus dapat mendefenisikan siapa saja seekers dan recruits dari website-nya.

Content

Setelah berhasil mendefenisikan audience-nya, barulah dibangun “jantung” sebuah website, yaitu content yang akan dikomunikasiannya. Jelas banwah content harus sesuai dengan target audience-nya. Maksudnya, content yang tersedia dapat :

  1. Membantu audience dan stakeholders dalam memenuhi kebutuhannya, terkait dengan pelayanan yang ditawarkan melalui website;
  2. Menunjang pencapaian visi, misis, tujuan, dan objektif dari pemerintah terkait.
  3. Menggalang hubungan atau relasi yang kurat dengan para pengunjung website;
  4. Menarik perhatian calon pengunjung agar berminat menjadi audience yang setia mengakses website;
  5. Menyediakan semua jawaban terhadap kebutuhan informasi audience;
  6. Menghemat waktu dan biaya audience dalam berkomunikasi dengan pemerintahnya;
  7. Memperkuat keterlibatan publik dalam proses pemerintahan; dan
  8. Memperkuat tingkat kepercayaan publik melalui proses keterbukaan yang demokratis.

Contoh-contoh content yang dianggap relevan ditampilkan dalam website adalah informasi terkait dengan proses legislatif, isu-isu hangat, hal-hal terkait dengan aspek akuntabilitas, referensi untuk pendidikan politik, pelayanan kepada konstituen, press release, informasi mengenai anggota legislatif, dan bagaimana cara menghubunginya, link ke alamat sejumlah website yang berhubungan, dan sebagainya.

 

Interacvity

Mengingat adanya kebutuhan komunikaasi dua arah, para pembuat website harus memeperhatikan aspek interactivit. Banyak teknologi internet yang dapat membantu pemerintah dalam menjalin relasi dengan para konstituennya di dunia maya. Sejumlah fasilitas dan fitur yang dapat dikembangkan oleh website e-government, misalnya, email, dan milis, survei online atau jajak pendapat secara online, bulletin boards, chat rooms, newsletter atau newsgroups, feedback dan comment forms, dan sebagainya.

Aspek interactivity tidak saja terkait dengan asas fungsional. Namun, lebih jauh, ia berpengaruh pula pada psikologi publik dalam hal terjadinya proses timbal balik antara pemerintah dan rakyatnya-yang bermuara pada terselenggaranya good governance dan meningkatnya partisipasi publik pada kegiatan politik dan pemerintahan, di samping tetap terpeliharanya proses demokratisasi.

 

Usabilitya

Audience yang jelas, content yang berkualitas, dan interactivity yang baik tak ada artinya jika website-nya sangat sulit digunakan (tidak user friendly). Hasil riset memperlihatkan, banyak pengunjung yang tak berminat mengakses kembali sebuah website karena lambatnya akses (karena terlalu banyak gambar dan animasi) atau buruk sistem navigasinya (struktur menu yang berbelit-belit). Pembuat website harus sadar bahwa teknologi yang dimiliki oleh audience sangat beragam, dari yang paling sederhana sampai yang canggih. Maka, agar mereka mudah mengakses website, perlu dicari “common denominator” (unsur-unsur yang sama dan serupa) dari teknologi yang digunakan oleh seluruh audience pemerintah. Elemen-elemen yang harus dimiliki sebuah website e-government agar tingkat usability-nya tinggi adalah sebagai berkut :

 

  1. Sistem organisasi content harus memiliki arsitektur yang jelas dan terstruktur.
  2. Navigasinya mudah dioperasikan.
  3. Content-nya “mudah dibaca” dan “enak dilihat”
  4. Isinya haruslah up-to-date dan selalu relevan.
  5. Waktu untuk menampilkan satu halaman penuh website tak lebih dari 10 detik.
  6. Tampilan harus menarik dan sesuai dengan karakteristik audience.
  7. Harus dapat dinikmati semua orang, terlepas dari faktor perbedaan usia, agama, bahasa. Tak boleh ada unsur diskriminasi.
  8. Ada unsur privacy. Pengguna website harus yakin bahwa tak ada hal-hal yang akan merugikan dirinya ketika mengakses website pemerintah.

Innovation

Innovation bukan sekadar aspek tambahan. Banyak ide kreatif dari para pembuat website yang dapat meningkatkan penggunaan website bagi pengunjungnya. Lihatlah bagaimana fasilitas search engine dapat membantu pengunjung untuk secara cepat menemukan apa yang dicarinya, atau penggunaan video camera dapat memberkan keleluasaan kepada konstituen untuk berkonfrensi jarak jauh (teleconference) dengan wakilnya di legislatif, atau jajak pendapat secara online dapat meningkatkan partisipasi masyarakat secara cepat, dan sebagainya. Intinya, sejalan dengan kemjuan teknologi, pemerintah harus secara kreatif berinovasi mengembangkan website-nya agar makin menarik dan bermanfaat (valuable), sehingga masyarakat selalu setia mengakses website tersebut.

Hal yang patut dicontoh dari Congressional Management Foundation adalah bahwa yang bersangkutan tak hanya sekadar mengadakan riset, tetapi mereka memiliki misi untuk meningatkan kualitas pengembangan website di kalangan pemerintah. Untuk itu, secara berkala mereka memberikan penghargaan berupa Congress Online Golde Mouse Award dan Congress Online Silver Mouse Award kepada sejumlah website e-government terbaik di Kongres AS.

Pos ini dipublikasikan di Education. Tandai permalink.

3 Balasan ke Aspek Penting dalam Website E-Government

  1. Hendra Rudiansyah berkata:

    Bagaimana dengan eGov Indonesia???????

    Menurut anda apakah negara kita sudah menerapkan seperti yang anda paparkan dalam tulisan anda?Seandainya BELUM, kapan indonesia bisa mengikuti jejak langkah mereka?
    Namun seandainya SUDAH kira – kira apa lagi yang perlu ditambah atau perlu ditingkatkan agar kualitas e-government Indonesia semakin maju?sehingga tidak dikatakan sebagai bangsa yang senantiasa “berkembang”.Kapan “maju”nya?
    apakah yang menjadi kendala jika e-government di terapkan di negara kita?
    dan dalam kondisi bilamanakh e-government indonesia dikatakan sukses?
    apa yang harus dilakukan oleh generasi indonesia muda sehingga kiranya egov indonesia bisa mencapai suatu kondisi dimana bisa dikatakan “SUKSES” dan “BERKUALITAS”???

    Hendra Rudiansyah (03018244) Tinf UAD

  2. novie mayang m berkata:

    e-gov?
    apakah SDM nya sudah cukup..
    bagaimana dengan masy awam yg krg mengerti sistem e-gov yg diterapkan..?
    mayang.SasIng-Undip

  3. Abram berkata:

    gan, kyknya antara “seeker” dan “recruit” koq nggak ada bedanya ya? sama2 pengunjung bukan? mohon pencerahan, sy agak susah membedakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s