Acara A Tribute to Samaun Samadikun di PAU Mikroelektronika ITB

Tanggal 18 kemarin saya ikut istri saya ke ITB, karena hari ini ia harus menjalani sidang tesis S2 di Teknik Informatika ITB yang dilaksanakan pukul 13.00 WIB (alhamdulilah hasilnya LULUS). Saya sendiri jam segitu berada di ruang lain tepatnya di gedung PAU Mikroelektronika untuk mengikuti acara Tribute to Samaun Samadikun.

Acara ini diselenggarakan oleh murid-murid (Alm) Prof. Samaun Samadikun yang bertujuan untuk mengenang kembali visi dan misi besar beliau yaitu hadirnya industri mikroelektronika di Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh peneliti PAUME sendiri dan undangan antara lain Dr. Richard Mengko, Prof. Tati Mengko, Dr. Budi Rahardjo, Dr. Armein Langi, Dr. Kastam Astami, Dr. Trio Adiono, pak Yana (PT Quasar), Buntoro (MAK),  Ahmad Bafaqih (EsiTrack), PT INTI, dll.

Acara yang dimoderatori oleh Budi Rahardjo dengan mulai memberikan paparan yang selalu ingat akan pesan almarhum tentang dua hal yaitu MIKROELEKTRONIKA dan INDUSTRI MIKROELEKTRONIKA yang selau diulang-ulang oleh beliau. Pak Budi juga merasa frustrasi dengan realitas kontribusi PAUME selama ini terkait dengan mimpi almarhum tersebut yang sangat masih jauh dari harapan terlebih lagi banyak dari “murid-murid” almarhum yang sudah menyeberang ke bidang lain sehingga ada lontaran agak “ekstrem” dari pak Budi dengan mengusulkan agar PAUME dibubarkan saja kalo sudah tidak berjalan seperti tujuan semula. Di mata pak Budi wujud dari mimpi almarhum adalah terciptanya sebuah industri mikroelektronika secara fisik dengan gedung, pabrik beserta ribuan pekerja di dalamnya. Walaupun pak Budi dan para peserta yang datang sepakat bahwa saat ini bangas Indonesia hampir mustahil untuk bisa mewujudkan hal tersebut, sehingga salah satu alternatifnya adalah dengan mengundang investor yang ingin membuka pabrik semikonduktor di Indonesia dan kita menyediakan tenaga terampil. Ada juga sebenarnya rintisan yang baik yaitu dengan cara brain reverse yaitu mengirim pekerja handal untuk bekerja di pabrik-pabrik luar negeri sekian tahun untuk kemudian kembali ke tanah air untuk mulai menerapkan pengalaman yang didapat selama bekerja di sana. Pak Budi juga menambahkan bahwa bila kita mau bersaing secara global maka mau tak mau kita juga harus berani untuk ikut dan menyiapkan diri untuk memenuhi kualifikasi standar internasional. Salah satu caranya adalah dengan tidak sungkan untuk melakukan investasi yang kadang memakan cost yang besar, dan masalahnya kata-kata “investasi” inilah yang masih menjadi momok kita semua. Selanjutnya kita juga harus mau dikualifikasi alias ditandingkan dengan para kompetitor kita di skala global tersebut.

Pembicaraan kemudian mulai berlanjut ke pembahasan mengenai bagaimana dan kapan Indonesia memiliki contoh sukses nyata dari industri teknologi informasi, khususnya mikroelektronika. Di mulai dari paparan Richard Mengko dengan pengalamannya selama ini di kementerian Risek lalu oleh Kastam Astami kemudian terakhir oleh Armein Langi yang memberi ide bahwa yang terpenting adalah value creation dari sebuah teknologi. Beliau juga heran dengan kondisi bangsa kita saat ini katanya belanja TI perusahaan mencapai angka milirian bahkan triliunan rupiah, tapi hanya sangat sedikit saja yang bisa kita nikmati, karena sebagian besar telah diambil oleh pemain asing. Pertanyaannya ke mana para pebisnis TI lokal kita? Selanjutnya Pak Armein mengatakan bahwa setiap kita (individu, perusahaan, lembaga) harus fokus pada bidang kompetensi intinya dan jangan melebar. Sebagai contoh, bila perusahaan kita menghasilkan software teruslah lakukan riset dan pengembangan software, dan lakukan bertahun-tahun, suatu saat pasti akan menjadi ahli. Sebaliknya bila keahlian kita adalah engineer tapi ternyata hampir 70% tugas kita hanya melakukan loby-loby, dan ini berlangsung bertahun-tahun maka kita akan menjadi ahli negosiator, bukan ahli rekayasa. Takutnya ketika negosiator kita berhasil, ternyata bukan kita yang menikmati tapi perusahaan/orang lain yang sudah bergelut bertahun-tahun di bidangnya, karena kita sudah bukan lagi ahli engineer. Hal ini, masih oleh pak Armein jika diterapkan oleh seluruh komponen bangsa dengan bidang yang berbeda-beda bakal menjadi sebuah “tim” yang tangguh dan saling melengkapi satu sama lain, sehingga menghasilkan sebuah kekuatan yang luar biasa. Kemudian dilanjutkan bergiliran oleh Buntoro. Beliau menceritakan tentang pengalamannya merangkul berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sebagai wujud kerjasama antara ABGS (Academy, Business, Government, Society) dalam membentuk cikal bakal klaster-klaster pusat bisnis dan riset. Dari keempat entitas ini Buntoro menemui kendala bahwa siapa yang harus memimpinnya? Dengan berani beliau yang langsung memimpin padahal notabene Buntoro adalah pebisnis. Beliau juga mengusulkan bahwa perlunya ada sebuah institusi/perusahaan besar dahulu yang nantinya menaungi calon-calon/bibit individu/institusi yang unggul. Fungsi dari institusi besar ini adalah untuk memfasilitas dan inkubator berikut akses teknologi dan pengalaman. Berikutnya pemilik PT Quasar yang menjelaskan tentang pengalaman bisnis yang ia jalankan selama ini, salah satu kelemahan mendasar produk lokal bila ingin bermain di segmen premium adalah pada dokumentasi. Ia mengmbil contoh bahwa produk Cisco pada dasarnya biasa saja dan kita juga mampu membuatnya. Tetapi dokumentasinya yang sangat banyak. Ini yang menjadi kelemahan PT Quasar selama ini yang masih “malas” dalam membuat dokumentasi. Pemilik EsiTrack melanjutkan pengalamannya yang dalam mengembangkan produk selalu kesulitan dalam mendapatkan komponen-komponen produnya tersebut di dalam negeri, sehingga terpaksa harus membeli dari luar seperti Malaysia, Taiwan atau Singapura. Ini lah yang menjadi titik keresahan kami semua yang hadir. Terakhir sebagai pemaparan penutup dibawakan oleh ibu Paula (kalo tidak salah), yang baru Sabtu kemarin pulang dari sekolah dan riset di Jerman (logat bicaranya aja masih susah untuk bicara bahasa Indonesia, terlihat dari kesulitan ibu ini mencari kosakata yang pas). Ibu Paula membagi pengalaman bagaimana lembaga-lembaga riset di Jerman bisa berhubungan mesra dengan perusahaan/bisnis, yaitu paten-paten dan penemuan yang dihasilkan dari penelitian kemudian dijual kepada calon investor yang nantinya untuk membentuk sebuah perusahaan. Sebagai kompensasinya lembaga riset tersebut mendapatkan share berupa saham di perusahaan tersebut.

Sebenarnya masih banyak yang dibicarakan dalam acara ini, tapi kayaknya yang saya bisa ingat dan resume baru segitu aja. Oh ya selain itu saya kebagian drat buku biografi (versi beta) tentang (alm) Prof. Samaun yang ditulis oleh Zaki Akhmad yang rencananya akan dirilis tepat setahun mengenang kematian almarhum. Rencananya acara ini akan dilanjutkan sekitar bulan Juli atau Agustus nanti.

Saya menangkap pesan yang tersirat dari acaranya adalah pertama marilah kita fokus, fokus dan fokus pada bidang kita (analoginya bila kita habiskan tiap hari latihan gitar selama 2 jam dan dilakukan selama 10-15 tahun, maka kelak kita akan ahli gitar). Kedua buat kisah sukses yang bakal menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa. Saya pribadi yakin tumbuhnya industri raksasa TI di Amerika, India, Cina salah satunya karena sudah dimulai adanya semacam heroic dan kisah sukses besar yang kemudian menjadi ikon, inspirator dan motivator perusaahaan lain untuk mengikutinya. Lihatlah Silicon Valley yang dimotori oleh kesuksesan Bill Gates dengan Microsoft, Intel dll, sehingga merembet dan berlanjut pada anak-anak muda yang bermimpi ingin sukses seperti mereka, maka muncullah Sergey Brin, Larry Page (Google), Jerry Yang, David Filo (Yahoo), InfoSys di India dan masih banyak lagi yang lainnya. Mari kita lihat siapa yang menjadi pahlawan/icon pertama perusahaan TI di Indonesia…Saya, Anda atau mereka? Kita lihat saja nanti…

Pos ini dipublikasikan di Bisnis, Education, Entrepreneurship, Events, Penelitian, Software, Teknologi Informasi. Tandai permalink.

7 Balasan ke Acara A Tribute to Samaun Samadikun di PAU Mikroelektronika ITB

  1. zakiakhmad berkata:

    Waduh tulisannya panjang sekali Mas Ardi. Tak menyangka, Anda yang pendiam, ternyata menjadi pengamat yang sungguh baik. Hohoho, tahu saya ada duduk dimana kan?

    Eh, di ITB, S2 juga?

  2. Ardiansyah berkata:

    he..he.., baru belajar jadi “pendengar” yang baik mas supaya ilmu yang didapat tidak terpotong2. Tapi kok beda yang dengan yang difoto (agak gundul sedikit).
    Saya belum S2 di ITB, baru istri saya di Informatika. Punya rencana sih, S2 ke ITB. Doakan aja semoga bisa masuk, ntar kita bisa ketemu terus kan…

  3. mtamim berkata:

    istrinya dah lulus ya mas? selamat dech. saya kebetulan teman seperjuangan dg beliau waktu s1 dan ketemu lagi waktu s2.
    good luck (btw kayaknya saya pernah ketemu dg mas ardi di ITB ya?)

  4. Ardiansyah berkata:

    Ya makasih mas, doakan saja saya bisa segera menyusul. Ngomong2 mas tamim ada rencana lanjutin S3 gak?

  5. za berkata:

    Eh serius mau S2 di ITB. Iya, itu foto zaman di Jogja. Tepatnya di Merbabu. Sekarang rambut saya pendek, tidak botak lagi.

    Boleh tahu, fokus bidang Mas Ardi apa ya?

  6. Ardiansyah berkata:

    Saya lebih fokus ke Sistem Informasi, Open Source dan terutama IT Entrepreneurship.

  7. mtamim berkata:

    rencana sih pengin s3 mas, tapi kayaknya mau istirahat dulu. kmaren s2 aja lumayan “ber-darah2” hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s