Pelayan dan Pemimpin

orator-small.gif

Bagi yang sudah pernah menggunakan jasa pembangu rumah tangga (khodimat), akan merasakan betapa besar jasa mereka dalam meringankan pekerjaan rumah tangga. Mau makan semua sudah tersedia di meja makan, tidak perlu mencuci piring, menanak nasi, berpanas-panas dan bau asap. Kurang sedikit tinggal teriak, pokoknya semua serba mudah dengan adanya pembantu.

Itulah jasa pembantu rumah tangga, tentu beda dengan pelayan yang lainnya. Pelayanan merupakan ujung tombak dalam semua organisasi. Dengan pelayanan yang prima, maka akan memunculkan kepercayaan. Dengan kepercayaan itulah orang akan memeberikan amanahnya kepada yang telah mereka uji pelayanannya.

Sang pelayan adalah manusia yang telah menyatukan hati dan jiwanya untuk semata-mata menghambakan diri kepada majikannya. Pelayanan dengan setulus hati akan tercermin dalam kinerja yang profesional.

Pelayanan sejati akan terhindar dari rasa malas, gengsi, merendahkan orang lain apalagi main perintah, dan segudang lagi perilaku yang tidak terpuji lainnya.

Pemimpin pada hakikatnya adalah sang pelayan umat. Yang harus selalu siap menyediakan jalan beraspal mulus. Menyediakan makanan bagi seluruh lapisan rakyatnya, mengatur tata kota agar senantiasa rapi, indah dan nyaman dihuni.

Yang membedakan pemimpin dan pelayan adalah, kalau pelayan tidak perlu berjiwa pemimpin, tapi kalau pemimpin mutlak berjiwa pelayan. Pemimpin yang tidak mempunyai jiwa pelayan biasanya hanya marah dan memerintah.

Jangan mimpi jadi pemimpin, kalau tidak ada jiwa pelayanan bersemayam di jiwa sanubari Anda.

Saya punya pengalaman tersendiri mengenai bagaimana sifat/perilaku pemimpin kita. Pada waktu itu ada acara seminar yang diselenggarakan oleh IKPM Sumsel Yogyakarta dengan pembicara para pejabat dari pemerintahan Sumatera Selatan di gedung MM UGM. Ceritanya saya baru masuk ke ruangan, dan masih berdiri di dekat pintu untuk mencari tempat duduk. Saya melihat ada seseorang yang kalau saya nilai pasti salah satu pejabat penting dari Sumsel. Ia juga baru masuk dan berdiri di sebelah saya untuk mencari tempat duduk, bedanya dengan saya ia seolah-olah kebingungan dan celingak celinguk mencari panitia dengan harapan bisa diantar ke “tempat duduk” yang semestinya. Setelah sekian lama akhirnya ada panitia yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan sedikit membungkukkan badan mempersilahkan pejabat tersebut untuk mengikutinya. Tapi ternyata sebelum beranjak pejabat tersebut dengan emosi setengah berteriak mengatakan “…saya ini tamu dan sudah lama berdiri di sini, kok gak ada panitia yang mengantarkan saya ke depan/tempat duduk sih…!!”. Saya yang mendengar itu langsung mengelus dada dan bergumam dalam hati, ya beginilah kalau pejabat yang masih bermental dilayani, apa-apa minta dilayani dan memarahi. Masak cuma duduk di depan pun harus diantar oleh panitia?? Kan udah kelaziman kalau orang penting itu dalam setiap acara duduknya ya di depan, kan tinggal masuk terus jalan ke depan ketemu kursi ya duduk. Ah itu aja kok repot…pejabat..pejabat… semoga generasi saya nanti ketika memimpin negeri ini tidak tertular dengan sifat seperti itu.

Sumber : Dikembangkan dari Editorial Majalah Beja Tahun II Edisi ke-13 Mei-Juni 2007

Foto : http://romisatriawahono.net/wp-content/uploads/2006/02/orator-small.gif

Pos ini dipublikasikan di Fenomena, Mutiara Hikmah, Opinion, Sosial Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s