Oh… Betapa Malangnya Industri Software Di Tanah Air Kita

programer.jpg

Coba kita lihat berbagai pameran TI dan expo di tanah air, seabrek produk yang dipajang pada acara itu hanya melulu memamerkan beragam produk perangkat keras alias hardware. Di sisi lain bila kita amati hampir mustahil kita menemukan vendor-vendor yang memajang produk piranti lunak alias software. Terus terang kecuali Zahir Accounting, praktis saya belum pernah saya melihat perusahaan software lokal yang dengan gagah dan penuh percaya diri memamerkan produknya sejajar dengan kepungan produk hardware. Dengan intensitas pameran dan produk-produk yang terus menerus seperti ini telah membawa dampak seperti :

A. Masyarakat Hanya Menghargai Produk Hardware

Apa artinya? Artinya karena iklan-iklan, pameran yang tiap hari menawarkan produk hardware membuat opini yang berkembang dan menjadi keyakikan masyarakat kita bahwa membeli produk hardware yang harganya jutaan rupiah adalah sebuah keniscayaan. Akibatnya, masyarakat menjadi sangat sadar dan ikhlas untuk menggelontorkan uang sekian juta rupiah untuk membeli produk hardware apakah PC, laptop, RAM, USB flash disk, dll. Artinya juga masyarakat sudah sadar bahwa hardware merupakan sebuah industri yang besar seperti halnya industri otomotif, pertambangan, dll. Di samping itu pula produk hardware yang bisa dilihat dengan kasat mata dan disentuh secara fisik menambah kesadaran dan keyakinan masyarakat tersebut.

B. Software Tidak Ada Nilainya!

Dampak sebaliknya malah terjadi terhadap software. Mengapa? Karena pertama, opini dan keyakinan yang dipegang masyarakat saat ini yang namanya software itu adalah “produk” (iya kalo dianggap produk) yang sangaaat murah…, tinggal kunjungi lapak-lapak yang menjual CD, pilih software yang dibutuhkan, tinggal bayar ke penjual dengan harga per keping Rp. 10.000-15.000, lalu install ke komputer. Selesai!. Kedua, minimnya (atau hampir tidak adanya) perusahaan-perusahaan software yang bisa meng-create model bisnis software yang sebonafid seperti halnya produk hardware. Bentuknya bisa dengan sering ikut pameran, expo, launching produk, demo, sosialisai, dan lain sebagainya yang tujuannya adalah membangun brand dan awareness masyarakat bahwa software juga adalah sebuah INDUSTRI…sekali lagi INDUSTRI yang besar seperti halnya industri hardware.!

 

Coba lihat, mana ada media, perusahaan, pemerintah kita yang memiliki inisiatif untuk menunjukkan kepada masyarakat kita misalnya, “ini lho kalo industri software itu juga padat modal dan padat otak yang melibatkan para ilmuwan setingkat master, doktor bahkan profesor, kita perlu membuat kantor, merekrut karyawan, programer, marketing, dll. Produk digodok secara matang, dicreate, dilaunching lalu didistribusikan ke masyarakat luas agar mudah didapatkan oleh konsumen yang kalo ditotal kebutuhan modalnya sekian miliar atau ratus miliar!“. Lalu produk yang dihasilkan dikemas dengan eksklusif yang menunjukkan produk sebuah industri besar kemudian dipajang di showroom, di ajang pameran, expo, diliput dan diulas media, banyak tutorial, benchmarking menyebabkan masyarakat menjadi sadar dan paham bahwa hardware dan software merupakan sebuah industri besar dan sejajar. Sehingga seharusnya kita dapat mengatakan kepada masyarakat :

“…kalo mampu beli komputer dan perangkat keras lainnya, kenapa beli software asli aja susah…”.
Mungkin ada yang menjawab :
“…kan mahal, pak dan banyak lagi yang harus dibeli ya sistem operasi, aplikasi perkantoran, desain grafis, bla..blaa..blaa..”.

Kita balas juga : “…makanya selektif dong beli software, emang semua software dipake semua, kalo gak kuat beli software, ya kudu beli software yang kira-kira sangat penting/krusial dan menjadi hajat hidup kita…, lihat tuh perusahaan, berapa ratus juta/miliar yang mereka investasikan untuk menghasilkan software berkualitas seperti yang Anda pake sekarang yang dengan menggunakan software tersebut selurh pekerjaan Anda berjalan lancar, dan banyak mendatangkan uang lagi…, mbok hargai dong software sebagaimana Anda menghargai hardware…”

Pos ini dipublikasikan di Bisnis, Entrepreneurship, Fenomena, Opinion, Software, Teknologi Informasi. Tandai permalink.

5 Balasan ke Oh… Betapa Malangnya Industri Software Di Tanah Air Kita

  1. Indra Pramadhita berkata:

    Ya gimana ya? lagi2 masalah finansial yang sangat diperhitungkan. Karena harga software asli yang sangat mahal jadi masyarakat lebih memilih software yang bajakan yang memang fungsinya hampir sama persis dengan software yang original. seperti yang bapak bilang diatas tadi. klo memikirkan betapa sulitnya membuat sebuah software, tentunya kita harus bisa memikirkan dan menghargai hasil kerja keras mereka…..

  2. Ardiansyah berkata:

    Ini adalah masalah besar bangsa kita, butuh sinergisitas yang luar biasa besar dan tinggi antara seluruh komponen bangsa mulai dari masyarakat, kaum intelektual, perusahaan, aparat kepolisian, Depkumham, dsb. Ini kerja besar dan butuh penyadaran yang memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar. Tapi bukan berarti kita menyerah dengan keadaan seperti ini, kalo saya terapkan aja 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai sekarang juga). Mau…?

  3. fira berkata:

    Mulai dari diri kita, tentunya kalo kita ingin dihargai oleh orang lain, kita pun harus menghargai orang lain. Banyak orang menilai rendah terhadap software karena dilihat dari fisiknya yang hanya berupa kepingan CD dimana harganya tidak lebih dari Rp. 2.000 perak. Secara tidak langsung mereka telah melecehkan para pembuat software. Tentunya para pembuat software jangan kebakaran jenggot dulu, dan jangan cepat-cepat berkoar-koar tentang anti pembajakan. Orang bikin website dihargai murah, bikin aplikasi toko dihargai rendah, mungkin ini terjadi karena para pembuat software menghargai dreamweaver, delphi, atau visual basic juga rendah. Jangankan beli dengan harga bandrol yang ada, beli dengan harga Rp. 25.000 perak saja mereka keberatan, ternyata mereka banyak memilih untuk menyewa dirental dengan hanya mengeluarkan Rp. 2.000 perak. Banyak aplikasi yang kadang harus kita labeli dengan harga puluhan juta, tetapi mengapa tool yang kita pakai dengan harga yang tidak mencapai puluhan juta kita labeli mahal …… intinya memang harus dimulai dari diri kita sendiri … saya setuju dengan mas Ardi … begitulah pesan Aa’ Gym.

    Mulai dari yang kecil, produk apapun yang dibuat dengan menggunakan tool atau aplikasi tertentu tidak pernah ditanyakan proses pembuatannya. (Karena kadang-kadang programer sendiri merahasiakan proses pembuatannya, kalo orang lain tahu …. programer mau makan apa? hehehe .. picik betul yaa .. padahal semakin banyak memberi, kita bakal akan semakin banyak menerima). OK … misalnya Anda buat dokumen “surat” … orang tidak pernah tanya kepada anda apakah pembuatannya pake openoffice, office 97, 2000, XP, 2003 atau malah 2007 … apalagi mau bikin website .. orang ga pernah tanya buatnya pake dreamweaver 4, MX, MX 2004, 8, atau malah CS3 …. Ketika kita merasa ketinggalan jaman karena pakai aplikasi versi rendah, berarti strategi vendor besar itu telah berhasil mendoktrin kita menjadi konsumtif …. (kapan kita mau maju ?… heheheh). Semakin tinggi versi yang kita pakai, notabene semakin besar permintaan spesifikasi hardware … apa jadinya? anda tahu jawabannya. Kalau memang anda mampu, belilah software legal sebagai sebuah investasi ….. (software sekarang bisa jadi aset. Ada sebuah perusahaan di Inggris yang jual software asli dengan harga bisa 50% lebih murah dari aslinya. Ceritanya ada perusahaan yang bangkrut dan licensi atas software yang dipakai selama ini bisa dijual ke pihak lain .. pihak microsoft pun ga keberatan). Jangan tergiur dengan versi baru selama aplikasi versi yang lama masih mampu mengakomodasikan kebutuhan kerja saat ini. Jangan malu pake yang free kalo memang belum mampu beli yang asli. Bagaimana kalo tetap selamanya ga mampu tapi kepengin pakai software versi baru? ( maklum, ada orang ga punya motor, daripada beli software kan mending beli motor, atau mungkin beli hp spesifikasi OK, … orang ginian ga perlu nimbrung lah … ngomong sampe berbusa ga kan pernah selesai). Solusinya … manfaatkan trial. OS Windows starter edition hanya 300rban …. kalo tetep belum mampu beli, pinjem temen yang sudah beli …. mending setiap bulan install ulang daripada setiap saat kita dicap maling karena pakai software bajakan. Begitu pun untuk aplikasi-aplikasi yang lain. Saya yakin .. kalo kita serius, dalam sebulan bisa mewujudkan sebuah karya. Bisa bikin design, website, aplikasi, dll .. dan tentunya bernilai rupiah …. ga ada salahnya menabung untuk rencana beli yang asli atau mengaktivasi …..

    Mulai dari sekarang …. kapan Anda ingin dihargai orang lain? tentu tidak 10 tahun lagi kan? yaa sekarang saatnya …..

    KEEP ORIGINAL. RESPECT YOURSELF.

  4. superdeuthman berkata:

    @fira
    hahah nohok banget
    emang sih banyak developer software yg koar2 kalo ketahuan sebagian ide or produknya dibajak, LUPA kali kalo mereka juga pakai software bajakan untuk membuatnya😀

    BTW u/ OS bukanya para LINUX-er gencar jg ikut pameran?

  5. Komang agus berkata:

    Dengan harga software asli yang sangat mahal sekarang ini tentunya tidak bisa disalahkan pemakainya.Pemerintah tidak hanya melakukan sweeping software bajakan namun tentunya bisa memberikan subsidi harga ke software asli untuk bisa dipakai masyarakat terutama dunia pendidikan sehingga masyarakat Indonesia bisa menghargai software asli.Bukan main sweping aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s